Sumber: suratkabar.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Ishomuddin menyatakan bahwa media sosial (medsos) hendaknya digunakan untuk hal-hal positif. Menurutnya, medsos harus dimanfaatkan untuk menyatukan dan mendamaikan berbagai konflik, sehingga terwujud bangsa kita yang aman dan damai.

“Mempersaudarakan orang-orang yang berbeda identitas, itu harus terus dilakukan,” kata Kiai Ishom di Jakarta, seperti dilansir NU Online, pada Jumat (9/3).

Menurutnya, masyarakat di era media sosial ini bisa dikatakan sebagai masyarakat sakit. Tidak sehat jiwanya. Dalam artian, pertama, gampang su’udzon, gampang berburuk sangka kepada orang lain. kedua, seringkali sebuah berita tidak dikritisi. Apakah berita tersebut sudah benar atau perlu dikroscek terlebih dahulu, masyarakat masih mudah terpengaruh.

“Jadi tidak kritis, tidak logis dalam berpikir sehingga apapun yang sebuah berita langsung dibenarkan dan langsung disebarluaskan,” ujarnya.

Bahkan banyak dari masyarakat kita yang tidak berpikir apakah sebuah berita tersebut bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat luas. “Itu tidak pernah dipikirkan yang penting ikut menyebarluaskan,” ucap Kiai Ishom.

Kemudian, soal tabayun atau klarifikasi juga masih menjadi masalah di masayarakat. “Inilah yang sebenarnya menyebabkan kekacauan-kekacauan di pikiran manusia di negeri kita ini. Karena itu, tidak boleh kita ikut serta menyebarkan fitnah, hoaks, dan adu domba,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa  menyebarkan hoaks, fitnah, adu domba, dan kebencian di media sosial adalah dosa. Dosa untuk dirinya dan ditambah dosa-dosa orang-orang yang mengikuti dirinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.

“Ini yang saya sebut sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus mengalir. Jadi jangan sampai jadi koordinator penyebar hoaks. Kalau amal jariyah mending, terus mengalirkan pahala,” terang Kiai Ishom. (ar/NU Online).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*