Jakarta, LiputanIslam.com—Rais (Ketua) Ifadiyyah Jami‘iyyah Ahli Thariqah Al-Mutabarah An-Nadhiyyah (JATMAN) DKI Jakarta, KH Hamdan Rosyid, menyatakan bahwa tarekat merupakan cara membimbing umat dalam taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Tetapi juga ulama tarekat harus mampu berperan dalam kehidupan masyarakat. Hal itu disampaikan Kyai Rosyid dalam acara pengukuhan dan pelantikan pengurus JATMAN DKI Jakarta masa Khidmat 2017-2022 di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, seperti dilansir NU Online pada Senin (20/3).

“Tarekat-tarekat dengan ajaran zikrullah dan memuji sifat Allah muaranya adalah penyucian jiwa. Tetapi hendaknya tidak berhenti di situ, karena pada saat yang sama pengamal tarekat juga dituntut untuk mampu menyesuaikan diri di tengah-tengah masyarakat,” kata Kyai Rosyid.

Kyai Rosyid menyampaikan bahwa penganut dan mursyid tarekat masa lalu, juga berjuang secara nyata bagi negaranya. Ia mencontohkan, Syekh Assanusi merupakan tokoh tarekat yang mampu melakukan revitalisasi terhadap umat dengan memimpin perlawanan terhadap penjajah. Kemudian ada juga Syekh Aaq Syamsudin tokoh yang mampu menanamkan kecintaan jihad terhadap Muhammad Al-Fatih, sehingga mampu merebut Konstantinopel (Istambul).

Ia menambahkan, dalam konteks keindonesiaan kita punya Pangeran Diponegoro seorang ulama tarekat yang mampu menggerakan perlawanan terhadap penjajah. “Bahkan di Indonesia ada Pangeran Diponegoro, seorang sufi tarekat yang mampu menggerakan masyarakat melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Saat ini tarekat di Indonesia, dengan dipelopori Habib Lutfi juga aktif menggerakan bela negara. Hal ini mencerminkan bagaimana tarekat juga berperan bagi keselamatan negara,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurutnya ulama-ulama tarekat untuk kedapannya harus mampu berperan aktif dan memberikan terobosan terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. “Ulama tarekat harus mampu menangani masalah riil dalam masyarakat. Kalau sekarang banyak warga yang tidak punya pekerjaan, maka ulama tarekat harus mampu membuat terobosan agar masyarakat mendapatkan pekerjaan yang halal. Begitu juga bila bangsa dan umat Islam di negeri ini banyak yang belum terdidik, tarekat beruapaya menyediakan layanan pendidikan, agar bangsa Indonesia menjadi lebih terdidik,” ungkapnya.

Pada tempat yang sama, Ketua JATMAN DKI Jakarta Wahfiudin Sakam menyampaikan bahwa para pengamal tarekat juga harus tetap mensalatkan jenazah umat Islam yang meninggal dunia, walapun berbeda dalam pilihan politik. Mensalatkan jenazah sesama umat muslim merupakan kewajiban umat Islam yang masih hidup. “Jangan sampai karena perbedaan politik, pengamal tarekat tidak mensalati jenazah sesama umat Islam. Kalau sampai jenazah tersebut disalati di gereja, dan beritanya tersebar ke seluruh dunia, ini akan memalukan umat Islam di Indonesia,” tandasnya. (fd/NU Online)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL