Sumber: nu.or.id

Karawang, LiputanIslam.com– Rais Majelis Ilmi Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU), KH Ahsin Sakho Muhammad menyatakan bahwa dirinya tidak setuju jika seorang ulama berkata buruk kepada orang lain dalam berdakwah, dengan alasan  dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Menurutnya, ulama tidak boleh berkata kasar. Sebab, Nabi SAW sendiri dalam berkata dan bertindak tidak pernah kasar.

“Enggak, enggak. Enggak boleh menjelek-jelekkan orang, berarti mulutnya jelek. Janganlah berkata-kata kasar. Nabi itu tidak berkata kasar,” ucapnya pada Kongres ke-5 JQHNU di Karawang, Jawa Barat, seperti dilansir NU Online, pada Kamis (26/7).

Kiai Ahsin Sakho menjelaskan bahwa salah satu ciri seorang ulama itu adalah suka tadabur. “Kalau seandainya dibacakan ayat Al-Qur’an dia termenung, tadabur, menangis, itu hatinya itu yang peka. Langsung tersungkur,” katanya.

Kemudian akhlak seorang ulama, lanjut dia,  juga sesuai dengan ungkapan Al-Qur’an yang mendeskripsikan sifat Nabi Muhammad, laqad kaana lakum uswatun hasanah. (Pada diri Nabi Muhammad terdapat sifat-sifat suri teladan yang baik). Akhlak dan tutur kata ulama itu menjadi panutan, teladan masyarakat.

“Uswatun hasanah, ya artinya panutan yang baik dari segi takwanya, dari segi akhlaknya, dari segi tutur katanya. Akhlaknya semuanya itu. Kalau tidak bisa mengikuti Nabi seratus persen, ya 50 persen. Kalau tidak bisa 50 persen, ya 10 persen saja. Pokoknya sesuai dengan kemampuannya,” ungkapnya.

“Orang yang memahami betul tentang ajaran agama Islam dan dia mempraktikannya. Itu dia yang patut diikuti, akhlaknya bagus, pengetahuannya luas,” tambah Kiai Sakho (ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*