Sumber: nu.or.id

Probolinggo, Liputanislam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa rasa nasionalisme, rasa cinta tanah air  adalah bagian dari iman. Menurutnya, Islam dan nasionalisme merupakan dua hal yang saling memperkuat dan tidak boleh dipertentangkan. Apalagi bagi warga NU (Nahdliyin) cinta tanah air itu sudah lama tertanam sejak pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.

“Nasionalisme bagian dari iman. Oleh karena itu saya berpesan agar warga muslim di negeri ini mencintai tanah air, ” katanya pada kuliah umum di kampus Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan yang bertema “Ngaji Bareng Ke-NU-an dan Kebangsaan” di Probolinggo, Jawa Timur, pada Rabu (5/9).

Kiai Said mengingatkan semua pihak agar tidak menggunakan agama untuk tujuan politik. Apalagi saat ini gejolak sentimen kesukuan, keagamaan, golongan dan ras semakin menguat. Oleh karena itu, semangat ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa) harus dikuatkan guna menyelamatkan bangsa dan negara yang kita cintai ini.

“Perkembangan informasi semakin masif lewat berbagai saluran pesan, terutama media sosial yang tanpa filter, mendorong potensi konflik berujung perpecahan. Apalagi pada masa mendekati pemilihan umum, banyak pihak khawatir persoalan SARA makin besar,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kehidupan demokrasi bukan berarti kebebasan tanpa ujung, namun suara rakyat menjadi pilar utama. Bukan demokrasi liberal yang diagungkan, tetapi demokrasi Pancasila. “Islam Nusantara bukan aliran, bukan agama baru, tapi khashaish, mumayyizaat, tipologi. Ini yang harus dipahami secara mendalam,” terangnya. (ar/Nu Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*