Sumber: nu.or.id

Jakarta, Liputanislam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa seseorang yang ingin memahami ajaran Islam dengan benar harus menggabungkan antara nash dan akal. Nash terdiri atas Al-Qur’an dan Hadits. Sementara akal terdiri atas Ijmak dan Qiyas.

Hal itu disampaikan Kiai Said pada pembukaan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) zona DKI Jakarta di Jakarta Islamic Center (JIC) Jakarta, seperti dilansir NU Online, pada Jumat (12/1).

“Kata Imam Syafii, bukan kata saya. Saya hanya menyampaikan saja. Kata Imam Syafii, kalau kita ingin paham agama Islam yang benar harus menggabungkan antara nash dan akal,” ucapnya.

Menurutnya, seseorang yang hanya memahami nash saja, maka akan membuatnya eksklusif (tertutup) dan jumud (kaku), sehingga bisa berdampak radikal. Begitu pun kalau hanya berlandaskan akal saja, membuatnya liberal dan liar.

Kiai Said menjelaskan, memahami maksud ayat-ayat Al-Qur’an, seseorang harus mengerti tentang berbagai disipilin ilmunya, seperti ushul fiqh karena di dalamnya terdapat berbagai macam terminologi seperti muhkamat dan mutasyabbihat, mutlaqah dan muqayyadah, amah dan khasshah, hakiki dan majazi, nasihkah dan mansukhah.

Ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an itu masih umum atau global sehingga membutuhkan hadits sebagai penjelasan. Ia mencontohkan bahwa Al-Qur’an memerintahkan umat Islam agar shalat, tapi tidak menjelaskan tentang jumlah shalat dan teknis pelaksanaannya. “Di Al-Qur’an tidak ada shalat lima kali, namanya Dzuhur, Ashar, Maghrib Isya, Shubuh, tidak ada. Maka kembali ke Hadits. Di Hadits ada, maka kita harus kembali ke Hadits,” terangnya.

Pada kesempatan itu, tampak hadir juga Ketua PBNU Bidang Hukum H Robikin Emhas, Wasekjen PBNU H Ulil Absar Hadrawi, Sultanul Huda, sejumlah pengurus wilayah NU Jakarta, dan pengurus cabang NU se-Jakarta. (ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*