susiJakarta, LiputanIslam.com — Sejak Indonesia dengan tegas menyatakan perang terhadap illegal fishing –misalnya dengan menangkap dan menenggelamkan kapal-kapal asing, aksi ini kerap menjadi perbincangan hangat di media internasional. Pro-kontra bermunculan. Namun efeknya tak hanya berhenti sampai disitu, kini beberapa negara mulai tertarik dan mengungkapkan ingin berguru ke Indonesia untuk memberantas illegal fishing di negaranya masing-masing.

“Seperti Somalia dan Sudan ingin mendapatkan resep memberantas illegal fishing dari negara kita,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, seperti dilansir Detik, 17 Februari 2014.

Keinginan Somalia dan Sudan meniru Indonesia memberantas praktik illegal fishing bukan tanpa alasan. Salah satu dampak kebijakan anti illegal fishing seperti moratorium izin tangkap kapal terbukti sukses, dampaknya ribuan kapal eks asing tak lagi beroperasi di perairan Indonesia.

“Kita negara satu-satunya yang menindak ribuan kapal di dalam negeri dalam kurun waktu 100 hari,” tambah Susi.

Dari 1.300 izin kapal eks asing, jumlah kapal eks asing yang tersisa hanya 500 kapal saja. Dari 500 kapal, mayoritas atau 90% kapal eks asing hanya merapat di pelabuhan terutama di Perairan Indonesia Timur seperti Pelabuhan Ambon, Wanam, dan Arafura.

“Kita ini diakui dunia dan berhasil memadamkan pencurian ikan itu hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Hal ini karena kerjasama TNI AL, Polri, KPK, dan para media yang mem-blow up sehingga kita berhasil mengusir praktik illegal fishing di Indonesia,” tegas Susi.

Susi sempat mengklaim pemberantasan pencurian ikan di Indonesia termasuk yang pertama sukses di dunia. Saat ini, beberapa pusat perdagangan ikan di negara tetangga seperti General Santos di Filipina kekurangan ikan akibat pemberantasan pencurian ikan di Indonesia. General Santos, yang dikenal sebagai eksportir tuna segar terbesar di dunia justru mendapatkan pasokan tuna dari Bitung, Sulawesi Utara (Sulut).

Susi juga mengungkapkan modus General Santos bisa mendapatkan ikan tuna segar dari Bitung. Ikan-ikan tuna itu diangkut oleh nelayan Bitung dan dikirim ke kapal pengangkut atau tramper Filipina yang sudah menunggu di garis perbatasan. Dari kegiatan itu setidaknya General Santos mampu mengekspor tuna segar cukup besar setiap tahunnya yaitu hingga 2 miliar dollar. Sementara sang pemasok yaitu Bitung hanya mampu mengekspor produk tuna kaleng per tahun sebesar Rp 16 miliar.

“Barangkali sukses kita dalam illegal fishing ini kesuksesan yang pertama di dunia, dunia luar tahu berapa ribu kapal di Indonesia sekarang tinggal berapa,” kata Susi. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL