Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Dirjen Pendis Kemenag), Prof Kamarudin Amin menyatakan bahwa pesantren tidak bisa dipisahkan dari fenomena Keislaman, Keindonesiaan, dan Kebudayaan masyarakat Indonesia. Hal itu ia sampaikan terkait dengan tema Peringatan Hari Santri 2017 “Wajah Pesantren, Wajah Indonesia”.

“Tema ini menunjukan bahwa pesantren itu darahnya merah putih. Santri religius yang nasionalis. Ini merupakan indentitas santri yang sangat mapan,” ujarnya di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, seperti dilansir NU Online, pada Kamis (5/10).

Pesantren merupakan salah satu kekuatan penopang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Agama dan rasa nasionalis menyatu dalam kehidupan pesantren. “Antara identitas, agama dan kewarganegaraan, menyatu dalam intetas pondok pesantren. Jadi santri itu sangat sadar akan identitasnya sebagai seorang muslim dan identitasnya sebagai warga negara,” terang Amin.

Menurutnya, pesantren adalah lembaga pendidikan khas Indonesia dan genuine otentik muncul dan lahir di Indonesia. Pesantren berkontribusi besar terhadap munculnya semangat nasionalisme. Berkontribusi juga dalam merawat keberagaman bangsa. “Pesantren penjaga gawang keberagamaan umat. Indonesia memiliki potensi disentragif, tapi karena pesantren hadir dan berkontribusi secara fundamental merawat keberagaman ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Amin berharap agar pesantren terus menghasilkan santri dan aktivis yang menyebarkan Islam moderat, Islam yang santun dan ramah. “Saya kira dengan aktivitas Hari Santri, ini menunjukkan kepada Indoensia dan dunia internasional bahwa pesantren yang mempromosikan moderasi Islam. Pesantren mengajarkan Islam rahmatan lil alamin,” ucap Amin. (Ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL