Sumber: nu.or.id

Magetan, LiputanIslam.com– Direktur Lembaga Kajian Islam Darul Fattah, Achmad Solechan mengatakan bahwa aksi kekerasan atas nama agama masih saja menjadi ancaman bagi masyarakat dan bangsa. Bahkan saat ini masih sering terjadi aksi teror yang dilakukan oleh kelompok yang berpaham sempit terhadap teks agama. Oleh karena itu, Achmad mengajak semua pihak untuk memperkuat persaudaraan antar sesama anak bangsa.

“Potret hari ini bangsa kita sedang mengalami krisis identitas, kalau tidak di-manage bisa membahayakan Negara. Agama dipakai untuk kepentingan politik sesaat, pribadi, pragmatis, pemecah belah dan adu domba,” ujarnya pada acara Halaqoh Nasional Kebangsaan bertema “Mari Pererat Ukhuwah untuk Perkuat  Negara Bangsa”, di Magetan, Jawa Timur, pada Sabtu (31/3).

Menurutnya, hadirnya media sosial (medsos) juga turut memfasilitasi kian gencarnya ujaran kebencian dan hoaks menyebar luas. “Padahal, Islam agama damai yang mengedepankan akhlakul karimah. Mari kita perkuat ukhuwah Islamiyah dan wathoniyah untuk keutuhan NKRI,” serunya.

Sementara, Peneliti Lembaga Kajian Islam Darul Fattah, Imdadun Rahmat mengatakan, Islam damai di Indonesia relevan untuk terus dibicarakan. Sebab, hal itu penting karena radikalisme dan kekerasan atas nama agama cenderung meningkat. “Bahkan, tren sepuluh tahun terakhir intoleran atau tindak kekerasan yang mengatasnakan agama Islam cenderung naik. Tentunya, kondisi ini berlawanan dengan ajaran Islam,” ungkapnya.

Menurutnya, radikalisme dan kekerasan tidak cocok di Indonesia. Sebab, karakteristik bangsa Indonesia itu adalah suka damai, ramah dan toleransi. “ISIS, Al-Qaida, masuk ke Indonesia sudah bermetamorfosis menjadi MMI, JI dan lainnya. Padahal, bangsa Indonesia sendiri mengenal dengan Islam rahmatan lil alamin, yaitu, Islam yang damai akan terus hidup lestari hingga akhir zaman,” ucapnya. (ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*