Retno Pratiwi dan suaminya Peter Gelling/jawapos.com

Retno Pratiwi dan suaminya Peter Gelling/jawapos.com

LiputanIslam.com – Istilah Kaki Lima identik dengan makanan yang dijajakan di pinggiran jalan baik di ibukota maupun di daerah lainnya di Indonesia. Lalu bagaimana ceritanya jika Kaki Lima yang satu ini mampu menggebrak Boston Amerika?

Retno Pratiwi dan Suaminya Peter Gelling lah yang mengenalkan cita rasa masakan Indonesia di Boston Amerika. Berawal dari kegemarannya terhadap dunia kuliner, membuat Retno terus memelihara impiannya. Retno akhirnya sekolah lagi di Cambridge School of Culinary Art pada tahun 2011 hingga 2013.

Meskipun belajar memasak di negeri Paman Sam, nasionalisme Retno tetap melekat di dadanya. Terbukti setelah lulus ia kemudian mempromosikan masakan Indonesia melalui sebuah komunitas bernama Kitchensurfing. Komuniatas tersebut merupakan media perantara bagi masyarakat yang ingin menghadirkan koki di rumahnya atau di acara pesta tertentu.

Dari situsnya, masyarakat bisa melihat profile para koki dan masakan-masakan yang bisa dibuat sesuai dengan koki yang dipilihnya. Setelah pas menemukan koki atau masakan tertentu barulah bisa melakukan transaksi online. Dengan begitu kedua belah pihak diuntungkan dengan adanya komunitas tersebut seperti dilansir dari jawapos.com.

Retno menilai bahwa pasar kuliner khas Indonesia masih terbuka lebar di Amerika. Retno mengakui bahwa akan cukup mudah untuk mencari masakan Thailand, Vietnam bahkan restoran Malaysia di Amerika. Namun, tidak demikian dengan makanan atau restoran Indonesia. Berdasarkan hal tersebut Retno berkesimpulan bahwa peluang kuliner Indonesia berjaya di Amerika masih cukup besar. Selain cita rasa masakannya yang khas, banyak warga Amerika yang juga senang dengan budaya yang terkandung dalam setiap masakan Indonesia misalnya seperti Nasi Tumpeng.

Retno kemudian mendirikan Kaki Lima yang merupakan bisnis kulinernya. Meskipun belum memiliki rumah makan secara fisik, namun kiprah Kaki Lima di Boston Amerika tidak bisa dipandang sebelah mata. Saat mengikuti festival untuk pertama kalinya, Kaki Lima sampai mendapatkan antrian para pelanggan hingga satu blok. Dari pengalaman itulah Retno merasa yakin bahwa pasar kuliner khas Indonesia sangat besar dan masih sedikit yang bermain didalamnya.

Tantangan terbesar bagi Retno adalah menyediakan bahan-bahan bumbu masakan khas Indonesia yang cukup sulit didapat di Amerika. Meskipun menurut Retno semua bumbu khas Indonesia memang ada di pasar Amerika namun tempatnya tersembunyi bahkan berjauhan. Tak ayal hal tersebut terpaksa membuat Retno dan suaminya berburu bumbu masakan dari kota satu ke kota lainnya.

Melihat peluang yang sangat besar dalam memopulerkan masakan Indonesia, kini Retno dan suaminya tengah mengembangkan Kaki Lima pada bisnis kuliner yang lebih serius lagi. Tak ayal meskipun belum meiliki tempat, Retno memutar otak dengan menyewa sebuah restoran untuk satu malam dan menjual tiket bookingnya tiga atau dua minggu sebelumnya. Dengan cara tersebut Kaki Lima bisa tetap eksis di tengah masyarakat Boston, Amerika. Retno berharap tahun depan sudah bisa memiliki restoran sendiri sehingga bisa melayani pelanggan setiap hari dengan masakan-masakan khas cita rasa Indonesia. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL