Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Menteri Sosial Republik Indonesia (Mensos RI), Khofifah Indar Parawansa mendorong penguatan peran  kearifan lokal agar mampu menjadi peredam kemungkinan disharmoni sosial, ekonomi, politik dan budaya. Apalagi tahun depan akan dilaksanakan pilkada di 171 di kabupaten kota maupun propinsi, yang mungkin berpotensi mengganggu kohesifitas sosial.

“Maka tokoh lintas agama, lintas budaya dan lintas profesi diharapkan terus memupuk persaudaraan meskipun beda afiliasi politik, beda strata sosial ekonomi dan beda kulturnya,” ujarnya usai menutup Konferensi Nasional Kearifan Lokal Tahun 2017 di Jakarta, pada Rabu (29/11).

Menurut Khofifah, konflik sosial dapat diminimalisir oleh kearifan lokal dan peran para tokoh agama. “Berbagai isu kebangsaan saat ini antara lain radikalisme, konflik sosial, ekslusifitas, intoleransi dan terorisme dapat diminimalisir melalui penguatan peran tokoh agama dan budaya dalam mengusung kearifan lokal,” terangnya.

Kearifan lokal yang dimaksud, lanjut dia, adalah ciri khas yang tumbuh, hidup dan adaptif, berskala lokal, punya kekuatan mengikat,  sebagai tuntunan perilaku bagi warganya dalam berelasi dengan lainnya berdasarkan kesetaraan, kesederajatan, dan non diskriminatif.

“Kepemimpinan lokal dan pemimpin informal ,  mekanisme lokal, sumber daya lokal,  dan inisiatif lokal merupakan komponen-komponen utama dan  merupakan inti dari kearifan lokal yang hingga kini bertahan di tengah pengaruh globalisasi,” ucapnya.

Kemudian Mensos menyontohkan nilai-nilai kearifan lokal seperti Musyawarah Mufakat di berbagai daerah di Indonesia. Di Lampung disebut “Rembug Pekon”, di Bangka Belitung disebut “Sepintu Sedulang” atau Rakat Mupakat di Kaltim, dan Rembugan di Jawa Tengah. (Ar/NU Online)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL