Sumber: nu.or.id

Tangsel, LiputanIslam.com– Sekretaris Awwal Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), KH Ali M Abdillah mengatakan bahwa syariat dan hakikat harus di amalkan secara seimbang. Jika mempelajari syariat, maka sudah seharusnya juga belajar tentang hakikat. Sebab, keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Demikian hal itu disampaikan Kiai Ali dalam diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Banten, pada Sabtu (20/4).

Menurutnya, jika seseorang hanya mempelajari syariatnya saja maka ia akan mudah mengkafirkan karena mengkaji agama secara ‘tekstual’. Begitu pun sebaliknya, jika seseorang hanya mempelajari agama saja maka mereka akan menjadi zindik (orang yang tersesat imannya). Hal itu sudah pernah terjadi pada masa Raden Ngabehi Rangga Warsita.

“Ketika itu, Raden Rangga Warsita mengkaji dan mengamalkan syariat dan hakikat secara seimbang. Namun para pengikutnya salah memahaminya, sehingga hanya mengamalkan hakikatnya saja dan meninggalkan syariat. Padahal Raden Rangga Warsita menyeimbangkan keduanya, baik syariat maupun hakikat,” ungkapnya.

Akibatnya, para penganut Raden Rangga Warsita tidak shalat lagi karena menganggap itu tidak diperlukan lagi. Mereka meninggalkan ibadah syariat dengan dalih bahwa dirinya sudah mengakui keberadaan Allah. “Semisal sudah tidak diperlukannya shalat, sebab dirinya sudah mengakui keberadaan Tuhan,” ucapnya.

Kiai Ali kembali mengingatkan bahwa syariat dan hakikat harus dilakukan secara bersamaan, dan diamalkan dengan seimbang. (aw/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*