Sumber: News.okezone.com

Sidoarjo, LiputanIslam.com– Ratusan ribu warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) mengikuti Istighosah Kubro di Stadion Gelora Delta Sidoarjo,Jawa Timur, pada Minggu (9/4). Istighosah Kubro yang bertema ‘Mengetuk Pintu Langit Menggapai Nurullah’ ini diadakan dalam rangka peringatan Hari Lahir ke-94 NU, serta  mendoakan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Istighotsah Kubro dihadiri Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, para kiai sepuh Nahdltul Ulama, para pejabat tinggi negara dan daerah setempat, serta masyarakat secara umum. Puncak dari Istigosah Kubro berupa pembacaan doa oleh sembilan kiai, di antaranya KH Anwar Manshur, KH Anwar Iskandar, KH Miftahul Akhyar, KH Nawawi Abdul Jalil, KH Azaim Ibrahimy, KH Agoes Ali Masyhuri, dan KH Mohamamd Kholil As’ad.

Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan, bahwa Istighosah Kubro tersebut memiliki beberapa tujuan. Pertama, mengajak seluruh komponen bangsa khususnya warga NU untuk kembali menyerahkan semua permasalahan dan problematika yang terjadi kepada Allah SWT. Pasrah kepada Allah SWT dilakukan setelah adanya ikhtiar, ijtihad, dan mujahadah.

“Kita berpasrah diri kepada Allah, memohon kepada-Nya agar seluruh masalah keagamaan dan kebangsaan yang terjadi, mendapatkan jalan keluar terbaik, dan kita dihindarkan dari segala musibah bahkan adzab, selagi kita mau meminta ampun, beristighfar dan memohon,” ujarnya.

Istighosah Kubro juga bertujuan Lil Ishlah yakni untuk mengkreasikan sebuah perdamaian sesama Muslimin, sesama umat beragama, sesama bangsa bahkan sesama umat manusia di dunia. Hal itu juga sesuai dengan mandat para kiai dalam pertemuan para kiai NU di Lirboyo pada Februari 2017 serta Musyawarah Ulama Khos yang digelar Mustasyar PBNU di Pesantren Sarang pada Maret 2017.

Musyawarah Ulama Khos tersebut memberikan tausiyah kepada bangsa Indonesia, warga dan pengurus NU. Inti tausiyah berupa perlunya kesucian hati untuk menyikapi perbedaan yang ada berdasarkan kelurusan ilmu dan uswah, teladan para salafus shalihin.

“Istighotsah ini bermaksud suci, memulai ishlah tersebut dengan kembali merenungi apa tujuan utama kita hidup di dunia, apa maksud dari diturunkan syariat Islam kepada Rasulullah dan apa tujuan bersama para founding fathers memperjuangkan dan mendirikan bangsa kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia,” imbuhnya.

Tujuan lainnya untuk menandai jelang satu abad NU yang pada 2017 ini berusia 94 tahun. Ia menilai, posisi NU kian strategis dan tugasnya tidak ringan baik sebagai jam’iyyah diniyyah, yang harus memastikan tetap berlakunya nilai-nilai universal Syariat Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di NKRI. Ataupun NU sebagai jam’iyyah Intima’iyyah, yang harus memastikan warganya tetap dalam kemaslahatan tetap terjamin hak-hak dasarnya, terjamin kesejahteraan dan berdaya di era globalisasi yang sangat kompetitif ini. (Ar/Republika/Detik/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL