Sumber: nu.or.id

Tangerang, LiputanIslam.com– Cendekiawan Islam Indonesia, Ulil Abshar Abdalla menyatakan bahwa Islam Nusantara adalah model Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Islam Nusantara setidaknya memiliki tiga karakteristik, yakni tidak mempolitisi agama, menggabungkan ilmu aqli dan ilmu naqli dan mengikuti tradisi tarekat dan tasawuf.

“Saya punya keyakinan yang mendalam Islam sejak zaman nabi ya seperti ini. Islam Nusantara itu Islamnya nabi, para sahabat, para tabi’in,” ungkapnya pada acara diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) di Tangerang Selatan, Sabtu (31/3).

Menurut Ulil, model Islam Nusantara atau ‘kelompok tengah’ ini tidak suka mencampuradukkan urusan politik dengan agama. “Kelompok ini menghindari terlalu mencampurkan politik dan agama,” katanya.

Dulu, Kelompok tengah ini menjadi penengah antara Syi’ah dan Khawarij yang bertikai soal hubungan agama dan politik. Syi’ah yang menganggap agama dan politik harus satu, sementara Khawarij sebaliknya.  “Leluhurnya dulu memang radikal sekali, tapi belakangan mereka mengalami moderasi,” ucapnya.

Kelompok tengah juga memiliki ciri suka menggabungkan pendekatan naqliyah (ilmu-ilmu yang berbasis teks keagamaan) dan aqliyah (ilmu-ilmu yang berbasis pada akal). Para ulama besar zaman dulu tidak pernah mempertentangkan antara ilmu naqliyah dan aqliyah.  Hal itu juga dipraktikkan di pesantren, zaitunah, dan ribat di seluruh dunia.

Kelompok tengah, lanjut dia, dalam Islam selalu mempraktikkan tasawuf. Menurut Ulil, tasawuf menjadi ‘alat’ untuk menyebarkan Islam sehingga bisa tersebar dimana-mana tanpa ada pertentangan dengan masyarakat setempat.

Model Islam yang menghormati tradisi lokal, ramah, toleran, dan moderat ala Islam Nusantara tidak hanya ada di Indonesia. Model Islam seperti ini juga banyak dipraktikkan di banyak belahan dunia Islam lainnya dan menjadi dominan seperti Mesir, Maroko, Yaman, Pakistan, dan lainnya.

Islam yang dipraktikkan dengan hikmah seperti ini merupakan model Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. dan diteruskan oleh generasi selanjutnya hingga hari ini. “Saya tidak yakin ada praktik semacam ini kalau tidak ada presedennya dulu,” tambahnya. (ar/NU Online).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*