www.its.ac.id

www.its.ac.id

Surabaya, LiputanIslam.com – Alat kendali mesin buatan tim peneliti Teknik Mesin ITS Surabaya bernama “IQUTech-e” menyabet riset inovasi terbaik dari Ditjen Dikti Kemenristekdikti.

“Kelebihan utama alat ini memiliki performa maksimal sehingga membuat kendaraan jauh lebih hemat,” kata ketua tim peneliti Engine Control Unit (ECU) IQUTech-e ITS Dr Muhammad Nur Yuniarto di Surabaya, akhir pekan ini, seperti diberitakan Antara.

Nur yang menerima penghargaan itu pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2015 di Jakarta (2/5) menegaskan bahwa ECU IQUTech-e merupakan alat untuk mengatur debit injeksi saat pengapian pada mesin.

“Dengan demikian, motor atau mobil akan memiliki performa maksimal yang didapat lewat inovasi dari tim Laboratorium Sistem dan Otomasi Industri, Jurusan Teknik Mesin, ITS berupa penanaman algoritma sederhana,” katanya.

Dosen Jurusan Teknik Mesin (JTM) ITS itu mengatakan alat itu juga tidak memerlukan memori yang cukup besar. Penghargaan dari Ditjen Dikti bukan semata-mata dari aspek teknologi, namun jumlah penjualan juga menjadi perhatian.

“Hingga saat ini, kami bisa menjual hingga ratusan unit setiap bulan. Bahkan, pihak Jepang juga tertarik dengan produk kami itu dan mereka juga sudah memasarkan di negaranya dengan merek Daytona. Saat ini, IQUTech-e dengan merek Daytona di Jepang sudah laku 1.700 unit,” katanya.

Ke depan, pihaknya optimistis Jurusan Teknik Mesin ITS yang kini sudah memiliki Gedung Riset Mobil Listrik ITS itu akan mampu berkiprah dalam bidang otomotif, namun bukan bertarung dalam skala mobil, melainkan dalam komponen motor, mobil, dan mobil listrik yang dipasarkan secara internasional.

Dalam perbincangan itu, Nur mengaku pembuatan alat itu berawal dari keterlibatan ITS dalam ajang kompetisi internasional Shell Eco Marathon Asia 2010.

“Saat itu, tim ITS belum memiliki ECU IQUTech-e sendiri, sehingga harus mengimpor dari negara lain dalam merancang kendaraan yang akan digunakan berlomba dalam ajang tahunan untuk kendaraan dengan efisiensi bahan bakar sebesar-besarnya,” katanya.

Kebetulan, alat semacam ECU IQUTech-e yang masih impor itu mengalami kerusakan, sehingga tim dipaksa untuk berinovasi sendiri untuk membuat alat yang sama.

“Bahkan, kami ingin membuktikan produk buatan Indonesia adalah yang terbaik. Jadi, target sebenarnya bukan penghargaan, melainkan produk yang unggul pada pasar dunia,” katanya. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL