Flag-Pins-Brazil-IndonesiaAmbon, LiputanIslam.com — Marco Archer Cardoso Moreira, 53 tahun, adalah warga negara Brasil yang ditangkap pada 2003 lalu di bandara Cengkareng. Polisi menemukan 13,4 kg kokain yang disembunyikan di dalam peralatan olahraga. Ia pun dijatuhi vonis hukuman mati, dan dieksekusi pada Minggu, 18 Januari 2015 di LP Nusa Kambangan bersama lima terpidana lainnya.

Eksekusi ini membuat hubungan Brasil dan Indonesia sedikit memanas, apalagi muncul pernyataan dari Presiden Brasil Dilma Rousseff yang menilai menilai hukuman itu kejam. “Hubungan antara kedua negara akan terpengaruh. Duta besar Brasil di Jakarta telah ditarik untuk melakukan konsultasi,” kata dia.

Banyak pihak di dalam negeri, terutama LSM-LSM pembela Hak Asasi Manusia (HAM) yang mengecam hukuman mati. Presiden Joko Widodo dianggap tidak berkomitmen pada penegakan HAM. Selain itu, muncul kekhawatiran jika penerapan hukuman mati akan berdampak buruk bagi kerjasama Indonesia dengan negara-negara lain.

Hanya saja, nampaknya kekhawatiran itu tidak terbukti. Beritasatu melaporkan, investor asal Brasil siap berinvestasi dalam peternakan sapi senilai total kurang lebih Rp 1 triliun di Pulau Buru, Provinsi Maluku. Peternakan tersebut memiliki total kapasitas sebesar 200.000 ekor sapi.

“Kami hitung-hitung tadi, setiap 5.000 hektare, kurang lebih Rp 100 miliar. Jika ada lahan sebesar 100.000 hektare, maka kurang lebih Rp1 triliun,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, seusai melakukan panen raya di Desa Waekasar, Kabupaten Buru, Maluku, Minggu, 26 April 2015.

Amran mengatakan, rencana investasi tersebut akan dilakukan di Pulau Buru Utara dan Pulau Buru Selatan, dan diharapkan penandatanganan kerja sama tersebut bisa segera terlaksana pada Senin, besok. Untuk di Pulau Buru Utara, lanjut Amran, luas Areal Penggunaan Lain (APL) kurang lebih ada sebesar 20.000-30.000 hektare, sementara untuk di Pulau Buru Selatan kurang lebih seluas 70.000 hektar.

Dan ternyata, pemerintahan Australia yang begitu gencar menentang eksekusi mati terhadap warga negaranya yang tersandung kasus narkoba di Indonesia, juga tidak menjadi penghalang bagi investor Australia untuk berinvestasi di negara ini. Menurut Amran, saat ini ada beberapa investor yang tengah melirik Pulau Buru untuk investasi peternakan, selain dari Brasil, juga ada investor lokal. Australia juga berminat untuk melakukan investasi, namun masih baru memasukkan permohonan.

“Ada lima (yang berminat), ada investor lokal juga. Tetapi ini (Brasil) yang kami harapkan, sementara Australia permohonannya baru masuk,” ujar Amran.

Amran menambahkan, Pulau Buru merupakan lokasi yang potensial untuk peternakan sapi. Sementara untuk produksi padi, diharapkan mampu ditingkatkan karena produktivitasnya masih rendah.

“Pulau Buru memiliki potensi yang luar biasa, produksi pertanian perlu ditingkatkan. Akan tetapi, Pulau Buru juga bagus untuk peternakan, ada investor yang tertarik, mudah-mudahan segera tanda tangan perjanjian kerja sama,” kata Amran.

Selama ini, kebutuhan daging sapi masyrakat Indonesia mayoritas dipenuhi dari sapi impor asal Australia. Pada kuartal pertama tahun 2015, Kementerian Perdagangan memberikan kuota impor sapi bakalan sebanyak 100.000 ekor, dengan realisasi pada awal April 2015 lalu mencapai 97.747 ekor.

Sementara untuk semester kedua 2015, Kementerian Perdagangan memberikan kuota mencapai 250.000 ekor sapi bakalan, dengan pertimbangan datangnya bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri, yang umumnya kebutuhan akan daging sapi meningkat. Pada tahun 2015, kebutuhan daging sapi sendiri diproyeksikan mencapai 640.000 ton, atau ada kenaikan sebesar delapan persen jika dibandingkan dengan kebutuhan pada tahun 2014 lalu. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL