lintasgayo.com

lintasgayo.com

Takengon, LiputanIslam.com – Takengon adalah sebuah daerah yang merupakan ibukota kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Kota Tekengon merupakan kawasan dataran tinggi yang memiliki hawa yang sejuk dengan ketinggian sekitar 1200 meter diatas permukaan laut. Tak heran jika Takengon merupakan sentra penghasil kopi Gayo yang produknya sudah dikirim ke luar negeri sebagai produk ekspor.

Dengan potensi yang ada ternyata dua siswa SMAN 1 Takengon berhasil mengubah limbah menjadi barang yang berguna. Mereka berhasil membuat triplek dari limbak kulit kopi yang terbuang percuma di pabrik-pabrik penggiling kopi di Takengon.

Karya mereka dinyatakan lolos di ajang Indonesian Science Project Olimpiad (ISPO) ke-7 dan berhak meraih medali penghormatan (Honourable Mention), demikian disampaikan Kepala SMAN 1 Takengon, Drs. Uswatuddin, M.AP, Rabu 18 Februari 2015, seperti dilansir dari lintasgayo.co.

Hasil tersebut diketahui setelah dewan juri mengumumkan pemenang di ajang karya tulis yayasan Pasiad Indonesia tersebut.”Guru pembimbing yang ikut mendampingi siswa yang memberi kabar kepada saya. Ini merupakan prestasi yang luar biasa di awal tahun 2015,” ucap Uswatuddin.

Dia juga menyampaikan, bahwa palaksaan ISPO selalu diikuti oleh siswa SMAN 1 Takengon, sejak ISPO tahun 2011 lalu SMAN 1 Takengon selalu meraih medali diajang tersebut. “Sempat absen selama dua tuhun. Kita tidak mengirim karya. Yakni di tahun 2013 dan tahun 2014, ditahun 2015 ini kembali karya-karya terbaik yang kita kirimkan,” demikian Uswatuddin.

Sementara itu salah seorang guru pembimbing yang ikut mendampingi siswa SMAN 1 Takengon, Hellyda Fitri, S.Pd mengatakan, karya tulis berjudul “Triplek Kulit Tanduk Kopi” karya Ihdina Ruliza dan Indah Gustiani, berhasil meraih medali penghormatan (honourable mention) di ajang tersebut. ”Ini medali ketiga dari ajang ISPO bagi SMAN 1 Takengon,” kata guru mata pelajaran Kimia ini.

Hellyda Fitri yang membimbing langsung kedua siswa tersebut membuat penelitian dari kulit tanduk kopi yang banyak terbuang di pabrik-pabrik kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah. “Kulit tanduknya kita manfaatkan lagi. Kita teliti ternyata bisa dibuat triplek,” ujarnya.

Dia juga berharap, bagi pemegang kebijakan di Aceh Tengah untuk menindaklanjuti hasil penelitian kedua siswanya tersebut. Karena, proses pengolahan hingga menjadi barang jadi cukup mudah. Sedangkan bahan baku sangat melimpah di daerah ini.

“Semoga ada yang menindaklanjuti hasil penelitian ini. Pembuatannya sangat mudah. Dan ini bisa menjadi industri kreatif bagi masyarakat, serta dapat meningkatkan perekonomian. Kita akan tunggu pemerintah kabupaten untuk menindaklanjuti penelitian ini, masih ada beberapa kekurangan dan itu bisa diperbaiki,” demikian Hellyda Fitri. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL