Chris Lie bersama Jake Forbes, penulis Return to Labyrinth yang meraih New York Times Best Seller. Foto: Dok re:on dari Tempo.co

Chris Lie bersama Jake Forbes, penulis Return to Labyrinth yang meraih New York Times Best Seller. Foto: Dok re:on dari Tempo.co

Jakarta, LiputanIslam.com – Chris Lie, pendiri komik re:On adalah salah satu komikus Indonesia yang dikenal mendunia. Komiknya berjudul Return of The Labyrinth terjual habis hanya dalam dua hari di ajang komik terbesar di dunia, San Diego Comic-Con pada Juli 2006. Dengan nama panjang Christiawan Lie, kemudian ia mendirikan Caravan Studio yang juga bertindak selaku direkturnya. Hobi menggambarnya sejak kecil membawa berkah kesuksesan dalam dunia ilustrator dan desain grafis hingga ke kancah dunia internasional.

Dari 25 jurusan yang ada di Institut Teknologi Bandung (ITB), Chris Lie menjadi lulusan terbaik teknik arsitektur. Namun ia malah melirik bidang ilustrator komik. Meskipun pernah menjadi arsitek di perusahaan pematung Nyoman Nuarta di Bandung, Chris tetap memilih menjadi komikus seperti dilansir dari tempo.co (22/11).

Chris mengaku belajar menggambar secara otodidak. Ia belajar dengan cara mencontoh dari komik-komik yang dibacanya. Akhirnya hobi tersebut ditekuninya hingga duduk di bangku kuliah saat mendapatkan beasiswa dari Fullbright di tahun 2003 dengan meneruskan S2 pada bidang Sequential Art di Savannah College of Arts and Design.

Beruntung selama kuliah, Chris bisa magang di penerbit ternama, Devil’s Due Publishing. Pria yang lahir 40 tahun 5 September silam ini mengakui karyanya mulai dilirik sejak dirinya magang di perusahaan tersebut. Karyanya dipilih ketika ada proyek action figur GI Joe dari Hasbro, perusahaan mainan raksasa pemegang lisansi pusat GI Joe. Proyek tersebut diselesaikannya dalam 6 bulan pada tahun 2004.

Berkah tersebut kemudian membawanya pulang kembali ke Indonesia pada tahun 2007 setelah semakin banyak order untuk mendesain berbagai tokoh komik dan mainan. Setahun kemudian ia mendirikan Caravan Studio dengan modal tabungan Rp 150 juta pada Januari 2008.

Ia mengungkapkan bahwa masih banyak pandangan masyarakat yang menyepelekan profesi komikus, padahal di Jepang seorang komikus bisa jadi selebriti. Ketenaran bisa dilakukan hanya dengan guratan pensil dan kertas tuturnya.

Hebatnya lagi, Chris lebih memilih pulang ke Indonesia dan mengembangkan dunia komik Indonesia yang saat ini membawahi 40 komikus dari seluruh tanah air. Hampir semua order pengerjaan datang dari Perusahaan besar Amerika seperti Marvel, Hasbro, Mattel, LEGO dan Sony Online Entertainment. Kecintaannya terhadap budaya lokal pun di wujudkannya dengan menggarap komik serial pewayangan Baratayudha melalui Caravan Studio. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL