121779bb-fd9d-467e-a9dc-675420e01261Yogyakarta, LiputanIslam.com–  Pekerjaan sebagai seorang engraver atau pengukir gambar memang sangat langka di Indonesia. Bahkan saat ini orang yang menekuni sebagai engraver semakin sedikit. Jumlahnya tidak lebih dari 10 orang.

Salah satunya adalah Mujirun, seorang engraver yang sebelumnya bekerja di Perum Peruri. Saat ini dia telah pensiun, namun masih tetap meneruskan profesinya sebagai engraver.

Pekerjaan seorang engraver bukanlah pekerjaan mudah karena membutuhkan ketelitian. Pekerjaan seorang pelukis mata uang kertas juga merupakan salah satu pengaman mata uang. Gambar yang dihasilkan dalam sebuah mata uang kertas harus gambar yang realis dengan garis-garis yang rumit.

“Kalau jumlahnya 10 atau 12 orang itu masih terlalu banyak. Yang saya tahu mungkin kurang dari itu engraver di Indonesia,” ungkap Mujirun kepada detikcom di sela-sela acara diskusi “Uang Kertas Indonesia Tahun 1952-1992” di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (6/6/2016).

Pria asli Melikan Kidul, Bantul itu mengawali sebagai seorang engraver ketika lulus Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) di Yogyakarta tahun 1979. Dia langsung direkrut oleh Peruri (Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia-red). Saat itu Peruri datang langsung ke sekolah dan mencari lulusan yang akan dididik menjadi seorang engraver.

“Setelah lolos, saya kemudian diminta belajar engraver di Italia, Swiss untuk belajar teknik-teknik engrave untuk mata uang,” katanya.

Menurut dia, engraver atau pengukir gambar yang biasa dilakukan adalah untuk keperluan pembuatan gambar mata uang kertas yang dicetak oleh Perum Peruri. Untuk menyelesaikan satu lukisan untuk satu mata uang kertas dibutuhkan waktu 4-6 bulan lamanya.

“Lama proses pembuatan gambarnya, harus benar-benar sempurna dan teliti. Untuk mengecek, saya juga harus memakai kaca pembesar,” katanya.

Dia mencontohkan ketika menggambar di sebuah bidang berupa plat alumunium ukuran 10×15 cm, harus dengan hati-hati, pelan-pelan dan teliti. Tidak boleh ada garis yang salah.

“Sebab kalau salah, itu sama saja gagal dan tidak dipakai. Kemudian harus diulang dari awal lagi,” katanya.

Selama bekerja di Perum Peruri hingga pensiun, sudah ada beberapa mata uang yang merupakan karyanya. Salah satunya adalah uang kertas pecahan Rp 1.000 gambar tokoh pahlawan Sisingamangaraja XII tahun 1987. Seri Presiden Soeharto tersenyum, emisi Rp 50.000 tahun 1985.

Selanjutnya gambar satwa Rusa Cervus Timorensis pecahan Rp 500 tahun 1988. Gambar Gunung Anak Krakatau Rp 100 tahun 1991. Gambar tokoh pahlawan pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro Rp 20.000 tahun 1998, Kapitan Pattimura Rp 1.000 tahun 2001, Tuanku Imam Bonjol Rp 5.000 tahun 2001, Otto Iskandar Di Nata pecahan Rp 20.000 tahun 2004 dan I Gusti Ngurah Rai Rp 50.000 tahun 2009.

“Pecahan Rp 50.000 tahun 2009 itu yang terakhir karena setelah itu saya sudah pensiun,” katanya.

Setelah pensiun dari Peruri, dia tetap melanjutkan profesinya sebagai seorang engraver. Di sela-sela kegiatannya di rumah dia masih mengerjakan beberapa gambar tokoh-tokoh di Indonesia seperti mantan Presiden SBY dan Mari Elka Pengestu. (ra/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL