papuJakarta, LiputanIslam.com—Pilihan dr Benediktus Andries untuk bekerja di Timika merupakan panggilan hidupnya. Jauh dari rumahnya yang ada di Ibu Kota Jakarta, dokter muda ini punya tujuan mulia mengabdi di Tanah Papua.

Pria yang akrab disapa Andries tersebut bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika di Kabupaten Mimika, Papua. Pusat penelitian tersebut adalah kerja sama antara Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika dengan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPMKP).

Sebelum bergabung dengan YPMKP, Andries terlebih dahulu bekerja sebagai dokter umum di RSMM. Kondisi Timika yang tinggi angka malarianya menjadi perhatian pria asal Bogor itu. Sempat mengikuti program internship di Pulau Sumbawa, NTB, Andries memang memilih ingin memberdayakan kemampuannya untuk masyarakat di daerah yang masih kekurangan mendapat pelayanan medis.

“Setelah selesai internship langsung ke Timika. Awalnya kontrak dengan RSMM, lalu diangkat jadi karyawan tetap. Saya resign lalu pindah ke yayasan untuk penelitian itu,” ungkap Andries.

Di usianya yang masih 27 tahun, Andries sudah memilih melanglang keluar dari megahnya Jakarta.
“Orangtua nggak ada masalah, apa pun yang saya mau untuk menggunakan ilmu saya kepada orang-orang mereka support. Saya ingin melalui penelitian ini, goalnya Timika bebas dari Malaria. Papua bebas dari Malaria, dan harapannya adalah se-Indonesia bebas malaria. Tapi segala sesuatu harus dimulai dari hal paling terkecil dulu kan?” ujarnya.

Meski Kota Timika sudah cukup ramai, namun daerah tersebut merupakan salah satu lokasi tempat sering terjadinya konflik. Beberapa tantangan lain juga ada. Namun itu tak menjadi hambatan bagi Andries untuk bekerja.

“Saya nggak takut, kalau umur sudah ada yang atur. Buat saya, saya menjunjung tinggi profesi. Dokter itu melayani dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Nggak semua orang bisa menjadi dokter. Saat sudah menjadi dokter, harapannya kita bisa mengaplikasikan apa yang kita miliki untuk masyarakat,” tutur Andries.

“Orang banyak yang anggap Papua jauh banget. Papua itu tetap Indonesia. Justru itu mereka, masyarakatnya, butuh kita. Jangan mikir yang jauh-jauh dulu, mungkin yang buat kita kecil, di sini itu buat mereka artinya bisa sangat besar,” lanjutnya. (ra/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL