Sumber: nu.or.id

Jakarta, Liputanislam.com– Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH Nasarudin Umar mengatakan bahwa momentum awal tahun baru Islam adalah momentum untuk hijrah. Menurutnya, hijrah itu mengubah cara pandang terhadap berbagai nikmat dan musibah. Bersukur atas setiap nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita.

Hal itu disampaikan Kiai Nasarudin pada saat memberikan ceramah pengajian bersama dalam rangka Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1440 Hijriyah, di Mushalla Attarbiyah, Ditjen Pendidikan Islam, Jakarta, pada Senin (17/09).

Menurutnya, tahun baru perlu dimaknai dengan pengamalan akhlak yang baik berupa taubat, syukur dan ikhlas. Sebab, ketika seseorang bersyukur atas rezeki yang didapat, maka akan ditambahkan oleh Allah. Sementara makna ditambahkan bagi orang yang syukur tidak berarti bertambah banyak rezeki, tetapi bertambah kelapangan dada.

“Bisa jadi tahun lalu rezekinya lebih banyak tetapi banyak halangan, tidak menikmatinya. Sebaliknya, tahun ini jumlah rezekinya lebih sedikit akan tetapi karena bersyukur menjadi cukup, manfaat dan berkah. Sehingga ada perasaan lega, tenang dan nyaman di hati,” terangnya.

Kiai Nasarudin mengatakan bahwa tingkatan yang paling tinggi adalah kemampuan mensyukuri apapun yang datang, baik musibah ataupun nikmat. “Kalau orang kena musibah paling pertama diingat adalah Allah. Akan tetapi ketika kenaikan pangkat, seringkali malah tidak,” katanya.

“Bagi orang yang bersyukur, musibah datang menambah iman dan mampu dihadapi dengan tenang,” jelasnya. (ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*