In the spirit of global friendshipJakarta, LiputanIslam.com — Dalam semangat perdamaian dan persahabatan global, sekitar 100 pelajar sekolah menengah dari 20 negara di seluruh dunia memperkenalkan budayanya dalam Festival Internasional Bahasa dan Budaya (ILFC) di Teater Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 11 April 2015.

Negara-negara yang berpartisipasi adalah Turki, Tunisia, Yordania, Australia, Kazakhstan, Nepal, Ethiopia, Ukraina, Myanmar, Mongolia, Kamboja, Albania, Thailand, Malaysia, Maladewa, Georgia, Maroko, Jerman, Filipina dan Indonesia.

Pelajar dari Indonesia memamerkan angklung dan mamainkan dua lagu legendaris yaitu ‘Begawan Solo’ karya Gesang, dan lagu ‘Let it Go’ dari film animasi Disney. Selain itu, mereka juga menampilkan tarian saman dari Aceh, yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari penonton. Hal serupa juga dilakukan oleh pelajar dari negara-negara sahabat, yang dengan antusias menampilkan seni budayanya.

Acara ini diselenggarakan oleh Turkish NGO Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association (PASIAD), yang bekerjasama dengan Yayasan Yenbu Indonesia dan Universitas Paramadina.

Alena Milojic, 16 tahun, peserta dari Jerman, mengatakan acara ini merupakan kesempatan baginya untuk memperkenalkan budaya negaranya sambil mempelajari budaya negara lain.

“Saya mengenakan pakaian tradisional Jerman dan menyanyikan sebuah lagu dari band yang populer di negara saya, yang berjudul ‘Krieger Des Lichts’,” katanya, seperti dilansir The Jakarta Post.

Alena mengatakan ia memutuskan untuk bergabung dengan acara tersebut karena seperti halnya Indonesia, Jerman memiliki keragaman budaya. “Biasanya ada pelajar yang mengolok-olok budaya atau orang-orang dari negara-negara lain dan saya tidak menyukainya. Itu sebabnya saya ingin menjadi bagian dari upaya untuk menciptakan persahabatan global,” katanya.

Ia mengaku akhirnya bertemu dengan banyak teman dan memperoleh pengetahuan tentang negara-negara lain melalui acara tersebut. “Sebelum datang ke sini, saya tahu tahu Indonesia hanya sebatas nama. Sekarang, saya tahu makanan, bahasa dan masyarakatnya. Kari ayam adalah makanan Indonesia yang menjadi favorit saya,” ujar Alena.

Alena mengatakan ia berharap bahwa anak-anak dari seluruh dunia akan membuka hati mereka untuk belajar dan menghargai budaya negara lain.

Hal yang sama juga dirasakan oleh seorang pelajar berusia 15 tahun dari Tunisia yang bernama Aladine. Ia hadir dan menyanyikan lagu yang berjudul ‘Aljazair’. “Saya ingin memperkenalkan budaya saya kepada dunia. Saya kagum dengan budaya negara lain yang dipertontonkan dalam festival ini,” ujar dia.

Aladine, yang ingin mengejar karirnya sebagai penyanyi, menyatakan bahwa kesempatan ini adalah sebuah pengalaman yang hebat, yang membuatnya bertemu dengan banyak teman. Ia berharap bisa tampil kembali di masa mendatang di negara-negara lain.

Selama 12 tahun terakhir, ILFC hanya diadakan di Turki, namun akhirnya Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi tuan rumah dalam festival yang ke-13. Ketua IFLC Indonesia, Huseyin Kan, mengatakan acara yang menargetkan sekitar 1.200 penonton ini butuh persiapan selama enam bulan, dan para peserta akan berada di Indonesia selama satu minggu.

Huseyin mengatakan bahwa selain memperkenalkan budaya mereka, para peserta dari negara-negara lain akan diperkenalkan dengan budaya Indonesia. “Tujuan kami adalah mempromosikan persahabatan global di antara semua orang di seluruh dunia tanpa memandang perbedaan budaya, bahasa ataupun warna kulit,” katanya.

Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan yang hadir dalam festival tersebut mengatakan bahwa ia sangat menghargai upaya pihak terkait yang menggelar acara itu. “Sangat penting untuk belajar satu sama lain, membangun persahabatan sehinga suatu hari nanti, kita bersatu untuk perdamaian,” katanya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL