viva.co.id

viva.co.id

Yogyakarta, LiputanIslam.com – Kaum difabel kerap kali terpinggirkan dan dilupakan. Selain sulit mendapatkan pekerjaan juga kerap kali menjadi anak tiri dalam penyediaan fasilitas umum dan transportasi. Namun begitu tetap masih ada yang memperhatikan mereka dan berusaha untuk memudahkan mereka, kaum difabel untuk bisa hidup lebih mudah dengan beberapa alat bantu.

Untuk mewujudkannya diperlukan desain yang tepat sebagai rancangan purwarupa sebuah alat bantu. Salah satu yang membanggakan adalah baru-baru ini mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) baru saja memenangi sebuah kontes desain tingkat ASEAN.

Satriawan Dini Hariyanto, Panji Prihandoko, dan Romario Aldrian tercatat sebagai pembuat desain Myx-o atau singkatan dari Muhammadiyah Yogyakarta Exoskeleton. Hasil desain ketiganya dinyatakan menang dalam Autodesk ASEAN Design Competition yang dilaksanakan akhir bulan Januari lalu.

Tema lomba yang mereka pilih adalah tuna daksa meskipun ada pilihan lain yakni tuna rungu dan tuna wicara. Niat mereka memilih tuna daksa didasarkan pada keinginan membantu pada penyandang difabel untuk bisa beraktifitas dengan mudah, seperti dilansir dari viva.co.id.

Panji menjelaskan, bahwa dalam pengerjaan desainnya, mereka membutuhkan waktu kurang lebih enam bulan dengan menggunakan SOP (standard operating procedure) dan dengan metode design thinking, yang sudah mereka siapkan terlebih dahulu.

Desain mereka diawali dengan survei yang dilakukan di SLB Negeri 1 Bantul dan komunitas difabel Yogyakarta. Selain melakukan wawancara mereka juga melakukan observasi terhadap penyandang difabel disana.

Desain yang mereka ciptakan dikhususkan bagi penyandang difabel yang tidak bisa berjalan. Selain itu material yang dipilih merupakan material yang harus mudah ditemukan di dalam negeri sehingga harga bisa lebih murah dan pasokan melimpah.

Lebih lanjut, Satriawan mengatakan, kelebihan dari alat ini bukan hanya sekadar membantu penyandang difabel untuk bisa berjalan saja, tetapi alat ini juga dapat digunakan untuk melakukan terapi berjalan.

Dalam membuat project design ini, Satriawan, Panji, dan Romario, dibantu oleh dosen Teknik Mesin UMY yaitu Tutik Sriyani dan Setia Prihandana.

Adapun penghargaan yang diberikan bagi para peserta yang berhasil menang dalam kompetisi tersebut, yakni mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan ke Beijing. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL