Sumber: nu.or.id

Lampung Tengah, LiputanIslam.com– Halaqah Alim Ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren se-Provinsi Lampung menghasilkan 5 poin kesepakatan menjaga keutuhan  bangsa. Acara yang mengusung  tema “Ikhtiar dari Lampung untuk Perbaikan Bangsa, Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Mewujudkan Indonesia yang berkeadaban”, berlangsung di kompleks Pesantren Darussa’adah Mojo Agung Seputih Jaya Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, pada Kamis (27/7).

Rais Syuriyah PWNU Lampung KH Muhsin Abdillah menyatakan bahwa kegiatan halaqah ini sebagai respon para alim ulama terhadap keberadaan kelompok  anti-Pancasila yang semakin meresahkan akhir-akhir ini. Oleh karena itu, ia meminta kepada masyarakat dan seluruh warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) untuk berperan aktif terhadap berbagai persoalan bangsa.

Berikut 5 poin kesepakatan alim ulama yang tertuang dalam Istimbath Darussa’adah yang ditandatangani oleh 27 Kiai Khos Lampung. Dibacakan Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung oleh KH. Dr Khairuddin Tahmid:

  1. NU Lampung secara tegas menyetujui dan mendukung sepenuhnya dikeluarkannya Perppu Nomor 02 Tahun 2017 tentang pembubaran ormas anti-Pancasila. Sebab, Pancasila sebagai ideologi negara merupakan hasil mujma ‘alaih atau konsesus nasional yang merupakan formulasi hubungan keagamaan dan kebangsaan. Pancasila menjadi titik temu karena menyerap nilai-nilai luhur agama yang bisa mengakomodir keragaman. Bagi bangsa Indonesia, ideologi Pancasila adalah bentuk final, maka setiap gerakan dan atau upaya mengganti ideologi Pancasila harus dihentikan karena mengingkari konsensus sesuai dengan Keputusan Muktamar Situbondo tahun 1984.
  2. NU Lampung secara tegas menolak dikeluarkannya keputusan Pemerintah tentang Full Day School (FDS), sebab Kebijakan Pemerintah tentang FDS (Kepmendikbud Nomor 23 T ahun 2017), meski sesungguhnya memiliki i’tikad dan misi yang baik, tetapi pada saat yang sama penerapan kebijakan tersebut belum didukung oleh pranata yang memadai. Oleh karenanya berpotensi merugikan eksistensi madrasah diniyah yang jumlahnya sangat besar di Tanah Air.
  3. Menghadapi agenda Pemilukada serentak tahun 2018, khususnya di Provinsi Lampung, NU Lampung: (a). Menyerukan kepada semua pihak yang hendak berkompetisi, baik kandidat maupun tim pemenangan, untuk mengedepankan cara-cara yang ma’ruf (fair), berpolitik yang santun, berakhlakul karimah, dan berkomitmen meninggalkan politik transaksional. (b). Masyarakat (umat) harus terus memperkokoh dan menjaga keharmonisan di tingkat akar rumput, meski terdapat perbedaan pilihan poltik, tidak dibenarkan melakukan hal-hal yang melanggar etika kesantunan yang dapat menimbulkan perpecahan, maka warga NU agar selalu berpegang pada Sembilan Pedoman Berpolitik Warga NU. Berkenaan dengan hal tersebut, PWNU Lampung berpandangan bahwa proses demokrasi harus didedikasikan sebagai ikhtiar bersama dalam melahirkan kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan umat sebagaimana disebutkan dalam kaidah ushul fiqih “tasharraful imam ‘alarra’iyyah manuuthun bil mashlahah”, sehingga tujuan lain di luar itu harus ditinggalkan bahkan ditolak. Maka proses demokrasi tidak boleh memproduksi cara-cara berkompetisi yang kontraproduktif dengan tujuan mulia demokrasi itu sendiri, seperti saling menjatuhkan, menjegal, menghujat, menyerang, bahkan memfitnah satu sama lain, dan termasuk penggunaan money politik. Sebab disamping hal-hal tersebut adalah perbuatan mazmumah, juga dapat menimbulkan friksi dan perpecahan di tingkat akar rumput (umat).
  4. NU Lampung merespon dan mendukung berdirinya Majelis Dzikir Hubbul Wathon yang diinisiasi oleh Ra’is Aam PBNU, sekaligus menjadikan majelis tersebut sebagai ikhtiar untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah. Sebab, saat ini masih terdapat ujian kebangsaan dengan masih adanya kelompok yang mempertentangkan nasionalisme dan agama yang dari waktu ke waktu eskalasinya semakin meningkat dan memprihatinkan.
  5. NU Lampung menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk mengedepankan ritual kerohanian (spiritual keagamaan) seperti dzikir, do’a, qunut nazilah dan kepedulian sosial lainnya dalam menyikapi tragedi kemanusiaan dan mengesampingkan aksi-aksi yang besifat anarkis.

Halaqah Alim Ulama ini dihadir KH Ahmad Shodiq (Mustasyar PBNU), KH Mustofa Aqil Siradj (Rais Syuriyah PBNU), KH Ahmad Ishomuddin (Rais Syuriyah PBNU), H Umarsyah (Ketua PBNU), KH Muhsin Abdillah (Rais Syuriyah PWNU Lampung), Rais Syuriyah PCNU se-Provinsi Lampung dan ribuan warga nahdliyyin. (Ar/NU Online)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL