Sumber: parlementaria.com

Yogyakarta, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah), Haedar Nashir menyatakan bahwa nasionalisme itu bukan hanya sebatas slogan cinta tanah air yang mudah diucapkan. Menurutnya, nasionalisme harus dibuktikan dengan pemaknaan sebagai energi positif dalam membangun bangsa secara dinamis dan transformatif.

“Nasionalisme bukanlah doktrin mati sebatas slogan cinta tanah air, tetapi harus dimaknai dan difungsikan sebagai energi positif untuk membangun Indonesia secara dinamis dan transformasif, dalam mewujudkan cita-cita nasional di tengah badai masalah dan tantangan zaman,” ujar Haedar di Yogyakarta, seperti dilansir suaramuhammadiyah.id, pada Jumat (11/8).

Haedar menjelaskan, bahwa cita-cita nasional dan falsafah bangsa yang ideal itu, perlu ditransformasikan ke dalam seluruh sistem kehidupan nasional sehingga terwujud Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat di hadapan bangsa-bangsa lain. Dalam bahasa Al-Qur’an, cita-cita itu adalah untuk menuju “Baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Menurutnya, paham nasionalisme serta segala bentuk pemikiran dan usaha yang dikembangkan dalam membangun Indonesia, haruslah berada dalam kerangka negara-bangsa dan diproyeksikan secara dinamis untuk terwujudnya cita-cita nasional yang luhur itu. Cita-cita dan kepribadian bangsa tercermin dalam Pancasila.

Haedar juga mengingatkan agar negara mewaspadai semua bentuk penyelewengan. “Bukan hanya separatisme yang ingin memisahkan diri dari Indonesia, tetapi juga bentuk penyelewengan dalam mengurus negara. Di antaranya korupsi, kolusi, nepotisme, penjualan aset-aset negara, perusakan sumber daya alam dan lingkungan,” ucapnya.

Bahkan, perilaku pengingkaran terhadap cita-cita kemerdekaan bisa berupa penindasan terhadap rakyat, otoritanisme, pelanggaran hak asasi manusia, tunduk pada kekuasaan asing, serta berbagai tindakan yang merugikan hajat hidup bangsa dan negara. “Hal itu merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita nasional,” tegas Haedar

Pada kesempatan itu, ia juga menerangkan peran para tokoh Muhammadiyah dalam kemerdekaan Indonesia. Diantaranya ialah Ki Bagoes Hadikoesoemo yang ikut berperan dalam perubahan bunyi sila pertama Pancasila. Ki Bagus tidak memaksakan NKRI menjadi negara syariat, Indonesia tetap berazaskan Pancasila yang bisa mempersatukan semua. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan perjanjian luhur dan konsensus nasional yang mengikat seluruh komponen bangsa. “Muhammadiyah terlibat aktif dalam peletakan dan penentuan fondasi negara-bangsa,” ungkap Haedar. (Ar/Suara Muhammadiyah).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL