Sumber: suaramuhammadiyah.id

Bantul, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan bahwa muhammadiyah tidak pernah anti budaya. Menurutnya, sebagai ormas terbesar di Indonesia, Muhammadiyah justru mendukung kebudayaan bangsa. Hal itu disampaikan Haedar saat membuka gelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Makutha Rama, di komplek Masjid Husnul Khatimah Peleman, Tamantirto, Kasihan, Bantul, pada  Sabtu (20/5).

“Orang selalu menyebut Muhammadiyah tidak suka wayang, ternyata malam ini membuktikan bahwa Muhammadiyah juga suka wayang dan tidak anti budaya dan kebudayaan. Kita mendukung kebudayaan,” ucapnya.

Pada awal sambutannya, Haedar mengapresiasi pagelaran wayang tersebut dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Menurutnya, hal ini juga sebagai bukti bahwa Muhammadiyah menghargai dan ikut menjaga tradisi budaya lokal. “Acara ini spesial karena menyambut Ramadhan dengan wayangan, apalagi yang menyelenggarakan PRM Tamantirno,” ujarnya.

Haedar menjelaskan, bahwa Muhammadiyah melalui keputusan tanwir 2000 telah meluncurkan program dakwah kultural. Dakwah dalam konteks ini berarti berusaha menggunakan strategi, bentuk pemahaman dan upaya yang lebih empatik dalam mengapresiasi kebudayaan masyarakat yang akan menjadi sasaran dakwah.

Ia juga mengapresiasi lakon Wahyu Makutha Rama yang dibawakan oleh Ki Seno N dan H Jumadi malam itu. Menurut Haedar, Wahyu Makuta Rama ‘Hasta Brata’ tidak hanya berlaku bagi para pemimpin saja, tetapi setiap manusia, seyongyanya turut mengamalkan dalam arti hidup selaras dengan alam dan menjalankan peran yang diembannya. Sehingga memberi manfaat bagi sesama dan alam semesta.

Pada kesempatan itu, Haedar menjelaskan bahwa Wahyu Makutha Rama dikenal dengan nama ajaran hasta brata. Hasta artinya adalah delapan dan brata berarti tingkah laku atau watak. Hasta brata merupakan pedoman perilaku manusia dengan implementasi prinsip-prinsip hukum alam dalam kepemimpinan. kedelapan unsur alam semesta tersebut menjadi teladan perilaku sehari-hari dalam pergaulan masyarakat terlebih lagi dalam rangka memimpin negara dan bangsa. “Ada banyak hikmah yang bisa diambil, bermakna dan semoga diberkahi Allah,” tuturnya.

Pertama, watak surya atau matahari. Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. “Matahari simbol untuk menyinari seluruh semesta alam. Muhammadiyah itu menyinari. Kita harus saling menyinari sesama anak bangsa,” katanya.

Kedua, watak candra atau bulan. Cahaya bulan yang lembut dianggap mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu memotivasi dan membangkitkan semangat rakyatnya dalam semua situasi suka dan duka. Ketiga, watak kartika atau bintang, yang menyimbolkan bahwa pemimpin itu sebagai suri tauladan atau pedoman arah.

Keempat, watak angkasa atau langit, yang menunjukkan bahwa pemimpin harus memiliki keluasan batin, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri. Kelima, watak maruta atau angin, menunjukkan bahwa pemimpin itu mengisi semua ruang kosong, selalu dekat dengan semua rakyatnya.

Keenam, watak samudera, yaitu laut atau air. Bahwa pemimpin harus menempatkan semua dalam martabat yang sama, adil, dan bijaksana. Ketujuh, watak dahana atau api, menyimbolkan pemimpin harus berwibawa dan menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu. Kedelapan, watak bumi atau tanah, menunjukkan pemimpin harus kuat dan bermurah hati. (Ar/Suara Muhammadiyah).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL