Sumber: suaramuhammadiyah.id

Yogyakarta, liputanIslam.com– Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyatakan bahwa Muhammadiyah terus menyebarkan Islam Indonesia kepada dunia. Menurutnya, umat Islam Indonesia harus bisa merebut momentum dan menjadi solusi. Nilai-nilai Islam khas Indonesia harus dibawa keluar dan disebarkan. Hal itu disampaikan Haedar di mushala Grha Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, pada Selasa (24/4).

Islam Indonesia yang selama ini dicirikan sebagai Islam yang ramah dan moderat harus terus dikembangkan. Menurutnya, Muhammadiyah gencar membangun tonggak-tonggak kemajuan peradaban. Tokoh-tokoh Muhammadiyah belakangan ini kerap melakukan lawatan ke luar negeri dalam upaya membangun tonggak peradaban. “Sejak awal tahun, kita kunjungan ke beberapa negara. Singapura, Australia, Mesir, Sudan, dan terakhir India. Ada hal yang sedang kita bangun,” ungkapnya.

Haedar mengatakan, diluar negeri Muhammadiyah terus mengembangkan alam pikiran Islam Indonesia yang berkemajuan. “Kita ingin internasionalisasi Muhammadiyah bukan pada seminar dan dialog antar agama, –itu sudah bagus dan terus dilanjutkan– Tapi kita ingin ada tonggak untuk keunggulan,” ucapnya.

Di Mesir, kisah Haedar, Muhammadiyah membeli satu flat yang luas. Sebuah gedung permanen yang ada TK ABA, pusat kegiatan PCIM, dan kedepan bisa menjadi pusat studi keislaman. ”Kalau kita ingin internasionalisasi islam, maka kita harus keluar. Mesir itu jadi pusat pemikiran Islam yang netral di Timur Tengah. Maka para pemikir Muhammadiyah harus bisa mempengaruhi dan ke sana,” ulasnya.

Di Melborne Australia, Muhammadiyah telah membeli 10 hektar lahan di kawasan elit yang diproyeksikan menjadi pusat pendidikan. “Kalau kita bikin boarding school di sana, insyaallah cukup bagus,” ujarnya.

Muhammadiyah sudah mengantongi izin dari kementerian pendidikan Malaysia untuk segera beroperasinya Universitas Muhammadiyah Malaysia yang ditargetkan untuk terlebih dahulu menampung mahasiswa jenjang S2 dan S3. “Kita punya 174 Perguruan Tinggi Muhammadiyah, tidak semua bisa belajar ke Eropa, jadi nanti sebagian bisa ke UM Malaysia,” ucap Haedar.

Dalam jangka menengah, Muhammadiyah juga memiliki target untuk menyemai 10.000 doktor. Hal itu sebagai upaya mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan berintegritas. Kata Haedar, 10% dari total mahasiswa nasional atau sekitar 650 ribu mahasiswa berada di PTM. “Itu modal SDM yang sangat besar,” tuturnya.

Ia juga mendorong gagasan pemikiran cendekiawan sekaligus negarawan semisal pemikiran Buya Syafii Maarif agar terus disemai dan disebarluaskan. Terutama oleh kalangan angkatan muda Muhammadiyah. “Pemikiran di kalangan anak muda harus tetap hidup. Peran Suara Muhammadiyah harus menjadi jembatan,” ungkapnya

“Mentalitas maju dan pikiran-pikiran maju perlu terus disebarluaskan. Anak-anak muda Muhammadiyah harus ada yang jadi pemikir. Jangan sampai di WA grup jadi sumbu pendek, marah-marah, kekanak-kanakan,” tegasnya. (ar/Suara Muhammadiyah).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*