Sumber: muhammadiyah.or.id

Jember, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah), Haedar Nashir menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Islam di kepulauan Nusantara atau Dwipantara, Melayunesia, hadir dalam sejarah yang panjang dan diterima secara damai oleh masyarakat luas. Hal itu ia sampaikan di Jember, Jawa Timur, seperti dilansir muhammadiyah.or.id, pada Senin (13/11).

“Perkembangan Islam yang ratusan tahun itu tidak sekali jadi baik melalui akulturasi atau bentukan kultural maupun dalam format kerajaan-kerajaan Islam sejak era Samudra Pasai. Hal yang jelas Islam Indonesia atau sebagian menyebut Islam Nusantara itu tumbuh tidak sekali jadi dan tidak tunggal, tetapi berproses penuh pergumulan dan banyak warna,” ujarnya.

Menurut Haedar, penyebar Islam di kepulauan Nusantara dipelopori dan diperankan  oleh para saudagar, para wali, dan para ulama dari  banyak mazhab yang masuk dari wilayah pesisir terus ke pedalaman. Sehingga aktor sejarah penyebar Islam yang damai dan kultural itu banyak dan berdiaspora dari Semenanjung Malaka hingga Papua.

“Dengan demikian  lahirlah umat Islam Indonesia yang pusparagam dalam banyak ragam mazhab dan golongan, yang secara umum memiliki watak moderat atau wasithiyah di mana pun berada sejalan dengan watak masyarakat dan kebudayaan  Indonesia,” ungkapnya.

Kemudian pada tahap selanjutnya, tambah Haedar, nama Indonesia untuk kepulauan yang terbentang antara benua Australia dan kawasan Pasifik ini pun menjadi menguat sebagai pilihan utama yang mengalir secara kultural hingga terkodifikasi secara politik yang sangat menentukan pada Sumpah Pemuda 1928 dan tentu saja pada Proklamasi Kemerdekaan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945.

Lahirnya organisasi Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi  Sarekat Islam. Juga Muhammadiyah tahun 1912, telah memberikan corak dan warna kuat bagi Islam di Indonesia. “Setelah itu lahir  Al-Irsyad, Persatuan Islam, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain. Semuanya dengan kekhasan masing-masing ikut memberi warna pada karakter Islam Indonesia yang moderat,”ungkap Haedar.

“Dengan karaker satu Islam banyak warna itu maka yang diperlukan dan harus terus dirawat ialah kebersamaan dalam hidup keumatan,  kebangsaan, dan kenegaraan, bahkan dalam ranah kemanusiaan universal. Tetap rawat toleransi atau tasamuh, silaturahim, komunikasi, sinergi, dan  ta’awun atau kerjasama,” tambahnya. (Ar/Muhammadiyah).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL