Sumber: twitter.com @muhammadiyah

Jakarta, Liputanislam,coom– Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan bahwa hakikat kurban dalam ritual ibadah ‘Idul Adha adalah melakukan kebaikan. Dalam bahasa Indonsia berkembang makna “korban” sebagai satu nafas dengan “qurban”. Berkorban artinya menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya. Di dunia ini tiada manusia bekerja dan meraih keberhasilan tanpa pengorbanan.

“Dalam beragama serta kehidupan berbangsa dan bernegara juga memerlukan pengorbanan lahir dan batin sebagai wujud dari ketulusan, pengabdian, dan ibadah semata karena Allah demi meraih ridha dan karunia-Nya,” ucapnya pada khutbah Idul Adha 1439 H di Lapangan Kompleks Bank Indonesia (KOPERBI) Jalan M.H. Thamrin Jakarta Pusat, pada Rabu (22/8).

Haedar menjelaskan, secara lahiriah, setiap yang berkorban menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada sesama, tetapi sejatinya yang bersangkutan berqurban kepada Allah dengan berani mengorbankan sesuatu yang dimilikinya untuk sesuatu yang lebih utama, yakni semakin mendekatkan diri kepada Allah sekaligus berbuat kebajikan yang luhur atau ihsan kepada sesama. Karenanya jangan merasa berat untuk berqurban hanya seekor hewan bagi yang berkemampuan.

Nabi Ibrahim dan Siti Hajar bahkan rela mengorbankan putra tercintanya Ismail, yang diikuti oleh keikhlasan Ismail yang masih belia, demi menaati perintah Allah dan merengkuh ridhanya. Meskipun akhirnya kurban nyawa itu tidak terjadi, namun keluarga Nabiyullah itu teruji keikhlasan, ketaatan, dan ketaqwaannyan kepada Sang Khaliq.

“Sementara itu mungkin di antara sebagian kita masih merasa sayang untuk berkurban hanya seekor hewan, sebagaimana berkorban harta kekayaan lainnya, karena terlalu mencintai harta dan dunia melampaui takaran. Semoga kita kaum muslimin yang menunaikan shalat Idul Adha saat ini terhindar dari sikap demikian. Bagi yang kebetulan belum sempat berniat, masih terbuka waktu setelah kembali dari shalat ini untuk menunaikan ibadah qurban,” tuturnya.

“Bahwa musuh terbesar manusia adalah diri sendiri yang mencinta ego dan kesenangan dunia melebihi kewajaran, sehingga mengidap penyakit ta’bid ‘an al-nafs (diperbudak diri) dan ta’bid ‘an al-dunya (membudakkan diri pada dunia). Sejarah manusia sesungguhnya dimulai dari pertarungan hidup menaklukkan segala hasrat dan kepentingan diri dan angkara dunia di tengah relasi orang lain dan lingkungannya,” terang Haedar. (ar/suaramuhammadiyah).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*