Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman), Habib Mohammad Luthfi bin Yahya menjelaskan bahwa hijrahnya Nabi SAW ke Madinah bukanlah karena takut, bukan tuntutan perut, bukan karena perlakukan kafir Quraisy.  Menurutnya, Nabi hijrah karena wahyu, perintah Allah SWT.

“Seandainya tidak ada perlakuan seperti itu, Kanjeng Nabi akan tetap hijrah. Hijrah di sini bukan ke negara-negara di Semenanjung Arab, kultur yang sudah setapak lebih maju. Ada apa?” tuturnya pada acara Halal bi Halal Nusantara di Majlis Ta’lim Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Jakarta Timur, seperti dilansir NU Online, pada Minggu (29/7).

Habib Luthfi menjelaskan, Yastrib atau Madinah merupakan kota tua pada 3000 tahun yang lalu sebelum masehi sudah ada. Sebuah kota yang menghubungkan ekonomi, kemudian dirintis kembali oleh Rasulullah menjadi jalan sutera. Jalan sutera ini menghubungkan ke timur jauh, melalui India hingga masuk ke Indonesia.

“Hijrahnya Rasulullah Allahu Akbar membangun marketing, Allahu Akbar membangun ekonomi, Allahu Akbar membangun pendidikan, Allahu Akbar membangun sarana-sarana ibadah, Allah Akbar menjalin persatuan-persatuan yang luar biasa atau ukhuwah, sampai timbul perjanjian deklarasi Madinah dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Menurutnya, apa yang dirintis oleh Nabi yang akhirnya ditiru oleh anak cucu. Islam masuk ke Indonesia mulai abad ke-2 hijrah. Kancah politik saat itu sedang terjadi antar Bani Umaiyah dan Bani Abbas. Allah yang tahu keberadaan ahlul bait, terombang ambing, fitnah luar biasa dan merajalela, bagaimana memojokkan kepada keturunan Nabi.

“Perjuangan tersebut diteruskan oleh Imam Ahmad al-Muhajir, dari Bashrah sampai ke Syam, dari Syam sampai ke Madinah, dari Madinah masuklah ke Hadramaut, Yaman. Sehingga pada masa-masa selanjutnya melahirkan tokoh-tokoh yang luar biasa,” ucapnya.

“Padahal pada waktu itu di Hadramaut mazhab yang pokok adalah mazhab Ibadhiyah, tapi Sayyid Ahmad al-Muhajir bisa memasukinya dengan mazhab Syafi’iyah, tanpa terjadi benturan. Justru saling menerima sampai melahirkan tokoh-tokoh intelektual yang luar biasa, tokoh muhadditsin yang luar biasa,” papar Habib Luthfi. (ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*