IMG_2999Jakarta, LiputanIslam.com — Budayawan dan penulis produktif Remy Sylado mengatakan, perayaan Imlek di Indonesia harus disyukuri, terutama oleh mereka yang merayakan karena selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru, sama susahnya dengan 3,5 tahun penjajahan Jepang. Sekarang orang-orang keturunan Cina di Indonesia sudah bebas merdeka merayakan Imlek.

“Kita, terutama saudara-saudara keturunan Cina harus kamsia kepada Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid-red) yang telah mencabut PP 14/67 yang sangat diskriminatif kepada orang Cina,” katanya kepada Liputan Islam, 17 Februari 2015 di kediamannya, Cipinang Muara Jakarta Timur.

Budayawan yang berpikir progresif dan pluralis itu menceritakan bahwa dirinya secara khusus harus mengapresiasi apa yang pernah dilakukan Gus Dur terkait dengan perjuangannya untuk kepentingan bangsa.

“Saya secara khusus menuliskan sosok Gus Dur di dalam Novel Sinologi Dalam Fiksi (*Novel Perempuan Bernama Arjuna Jilid II*—Red) karena dalam novel tersebut bicara sejarah Cina di Indonesia, dan di situ Gus Dur punya peranan sejarah yang penting,” tuturnya.

Ditanya tentang perayaan Imlek sebagai perayaan milik agama Konghucu ketimbang milik orang Cina, Remy menjawab, “Memang ada peranan atau  jasa Konghucu yang menjadi landasan dalam tradisi Imlek itu. Tetapi sebenarnya perayaan dengan istilah ‘gong xi fa chai’ adalah ekspresi khas orang Cina pada sisten penanggalannya yang memberi berkah kepada manusia hidup secara umum terutama kepada kaum tani yang mayoritas di negeri Cina,” jelas Remy.

Menurut budayawan yang gemar memakai akik ini, hal tersebut terjadi karena Imlek tak lepas dengan hubungannya dengan ketepatan waktu, bagi petani untuk bercocok tanam.

“Memang, tak salah, adalah Konghucu yang berhasil menghitung keadaan alam, dan waktu yang tepat bagi manusia untuk bekerja. Kecendekiaan Konghucu itu, disertai dengan ajaran-ajaran pekerti, susila, akhlak, adab, bagi orang Cina disebut ‘nabi’,” paparnya.

Benarkah Konghucu itu nabi?

Ojo kagetan tho. Penganut Konghucu menyebut Xian Zhi, atau di Indonesia sama dengan nabi dalam artian karena pengertian nabi itu universal,” ujar Remy berargumentasi.

Remy menjelaskan, kata ‘nabi’ dalam bahasa Indonesia memang diserap dari bahasa Arab. Tapi bahasa Arab sendiri menyerap dari bahasa Ibrani lingkungan Yahudi sebagai bangsa pertama di muka bumi ini yang menganut monoteisme.

“Nah, dari bahasa Ibrani itu, ‘nabi’ artinya ‘orang yang memberi inspirasi’. Jadi, dalam konteks itu, tidaklah salah kata ‘nabi’ dipakai oleh pihak agama Konghucu di Indonesia untuk menyebut Konghucu,” terangnya. (Ferlita/Ahmadi)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL