Sumber: radarbanten.co.id

Serang, LiputanIslam.com– Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng  KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengingatkan kepada segenap bangsa, bahwa spirit Islam dan Indonesia sudah terpadu dan tidak dapat dipisahkan. Hal itu disampaikan Gus Sholah saat meresmikan berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng Cabang Banten di Kampung Pabuaran, Desa Sanding, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten, pada Selasa (18/4).

Menurut Gus Sholah, Islam dan Indonesia itu adalah seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Ia mengingatkan, pemisahan antara Islam dan Indonesia, hanya akan membawa bangsa ini mundur 30 tahun kebelakang. “Kalau Indonesia meninggalkan Islam, kita akan kembali ke zaman 30 tahun lalu, ketika pemerintah memusuhi umat Islam,” ucapnya.

Pandangan itu disampaikan Gus Sholah untuk menyikapi adanya isu yang berkembang di tengah masyarakat tentang Islam dan Indonesia. “Sekarang ini kelihatannya ada yang ingin mempertentangkan Islam dan Indonesia. Termasuk juga orang Islam yang tidak paham. Mereka bilang, kita ini orang Islam yang Indonesia, atau orang Indonesia yang Islam. Saya bilang, apa kita pernah disuruh memilih antara Islam dan Indonesia?” ujarnya.

Gus Sholah memberikan analogi, orang yang ingin memisahkan Islam dan Indonesia itu seperti anak yang bapak dan ibunya mau bercerai. Lalu si anak disuruh memilih ikut bapak atau ibunya. “Lha ini kan tidak akan bercerai. Harus kita pertahankan. Kita ini orang Indonesia yang beragama Islam dan orang Islam yang Indonesia. Tidak perlu kita pertentangkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan proses perpaduan Islam dan Indonesia itu sejak masa perjuangan kemerdekaan yang melibatkan kalangan pesantren dan para kiai, hingga integrasi madrasah ke dalam sistem pendidikan nasional. Juga penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal dalam Muktamar NU di Situbondo (1984). Termasuk integrasi beberapa aspek hukum Islam yang bersifat muamalah ke dalam sistem hukum nasional.

Sementara, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol. Boy Rafli Amar yang hadir dalam peresmian itu menyampaikan, bahwa pendiri Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asy’ari terkenal dengan konsep hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Karena itu, dia berharap semangat ini akan menyebar luas di tengah-tengah krisis kecintaan kepada negara yang cenderung memudar akhir-akhir ini. “Terutama masyarakat di kota-kota besar yang menikmati kemajuan teknologi sedemikian rupa, mereka kadang lupa dengan nilai-nilai dasar bangsa kita yang diwariskan para leluhur dalam rangka membangun NKRI,” ungkapnya. (Ar/NU Online/Radar Banten).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL