Sumber: nu.or.id

Jombang, Liputanislam.com– Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang  Jawa Timur,  KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengharapkan pesta demokrasi  (Pemilu) 2019 mendatang merupakan ajang yang sehat dan berkualitas. Sehingga dengan demikian dapat melahirkan sosok pemimpin yang membawa negara besar ini menjadi lebih maju dan sejahtera.

Hal itu disampaikan Gus Sholah pada acara seminar nasional yang mengangkat tema “Aktualisasi Resolusi Jihad Untuk Persatuan Bangsa Menuju Pemilu Damai “ di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada Minggu (11/11).

Menurutnya, sebagai sebuah pesta demoktasi dengan  biaya tinggi, maka Pemilu tahun depan harus menjadi event yang berkualitas, aman dan mampu menyodorkan pemimpin yang  berkualitas pula. “Sebab, di situlah (Pemilu) nasib bangsa Indonesia ditentukan,” ucapnya.

Ia mencontohkan Pemilu  pertama pada tahun 1955. Menurutnya, Pemilu 1955 berjalan cukup baik dan aman.  Saat itu partai dengan dasar Islam, Pancasila dan komunis bisa rukun. Tidak ada korban jiwa, mobil dibakar,  dan jujur serta adil diterapkan bukan diucapkan. “Hal itu seperti tertulis dalam puisi Taufiq Ismail,” ungkapnya.

Sementara dalam hal pergantian pucuk pimpinan negara,  punya kisah sendiri dan terkadang memilukan. Saat Soekarno diganti Suharto, diawali kasus PKI. Begitu juga saat Suharto diganti Habibie , terjadi demo mahasiswa. Dan selanjutnya digantikan KH Abdurrahman Wahid. Pada pergantian selanjutnya dari KH Abdurahman Wahid ke Megawati juga diiringi isu Bulog.

Khusus  tahun 2004, saat pergantian Megawati ke Susilo Bambang Yudhoyono, suasananya cukup kondusif. Namun sejak tahun 2014, suasana kembali memanas dan memecah dua kelompok besar pendukung. Dua kelompok ini mencapai klimaks perseteruannya  di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sehingga suasana kembali meruncing dan lebih keras.

“Pertarungan Pilpres 2019 tak beda jauh dengan Pilpres 2014 dan Pilkada Jakarta 2017. Saya harap kita semua bisa menjaga diri masing-masing. Pendukung kedua belah pihak harus menjaga lisan dan jarinya supaya tidak mengetik kalimat yang menarik emosi, yang membuat kondisi semakin suram,” ucapnya.

Oleh karena itu, Gus Sholah juga mengingatkan semua pihak akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. “Negara kita adalah negara baik. Punya masa depan cerah. Kita tentu tidak ingin masa depan ini hilang. Oleh karena itu jangan rusak hanya karena kepentingan sesaat,” tegasnya. (ar/NU Online).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*