Sumber: nu.or.id

Semarang, LiputanIslam.com– Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengungkapkan bahwa predikat ulama merupakan pemberian masyarakat kepada seseorang yang dianggap sebagai teladan dalam kehidupan umat. Ulama memberikan contoh dalam ilmu dan perilakunya. Hal itu disampaikan Gus Mus saat memberikan mauidhoh hasanah dalam peringatan Isra’ Mi’raj yang dibarengkan dengan Khotmil Qur’an Pondok Pesantren Al-Aziziyah Beringin, Semarang, Jawa Tengah, seperti dilansir oleh NU Online, pada Selasa (25/4).

Gus Mus menjelaskan, bahwa pengertian ulama bisa diartikan dari bahasa Arab dan Indonesia. Akan tetapi, kedua hal ini berbeda secara makna. Konteks yang melatarbelakangi kata ini pun akan lain. Kata ulama tak bisa diartikan secara langsung dengan kata kiai. Ulama itu bukan terjemahan dari kiai. “Ulama adalah produk masyarakat, mengenali masyarakat dan masyarakat tahu persis track record ulama tersebut,” ungkapnya.

Gus Mus juga menyampaikan, bahwa sekarang ini banyak yang mengaku ulama, akan tetapi tak pantas menyandangnya karena keilmuan dan perilakunya tidak tepat dengan peran dan tugasnya sebagai ulama. Secara sanad keilmuan, tak jelas menganut kepada siapa. Keilmuan tak dapat secara instan. Kadang mereka hadir tanpa diketahui masyarakat rekam jejaknya seperti apa.

Ia menerangkan, kata Kiai merupakan ciri khas (istilah) bagi masyarakat Jawa. Benda-benda yang dihormati dinamakan dengan kiai. Secara tak langsung kiai adalah orang yang dihormati. “Kiai memiliki pandangan yandzhuruna ilal ummah bi ainir rahmah (melihat umat dengan pandangan kasih sayang),” ucapnya.

Gus Mus juga menambahkan, Nabi Muhammad  itu perangainya Al-Qur’an. Masyarakat atau sahabat cukup dengan melihat tingkah lakunya saja. Nabi telah mengerjakan terlebih dahulu apa-apa yang akan diperintahkan kepada umat Islam. (Ar/NU Online)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL