Sumber: youtube.com

Semarang, LiputanIslam.com– Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan bahwa ada tiga nikmat yang sering tidak disadari atau dilupakan manusia. Nikmat pertama menurutnya adalah nikmat menjadi seorang manusia yang dilahirkan ke muka bumi lengkap dengan hati dan akal.

“Menjadi seorang manusia yang lengkap dengan akal pikiran dan nurani. Keduanya  adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh mahkluk lain,” ungkapnya pada acara Tabligh Akbar di lapangan Simpang Lima Semarang, Jawa Tengah, seperti dilansir NU Online, pada Selasa (15/5).

Gus Mus mengungkapkan bahwa dengan adanya akal dan nurani, maka kita dapat bebas mengekspresikan segala hal. Berbeda dengan mahkluk lain seperti hewan dan malaikat, mereka tidak sempurna dalam mengekspresikan sesuatu. “Misalnya malaikat, apabila sujud ya sujud terus. Kalau rukuk ya selamanya rukuk,” ucapnya mencontohkan.

Nikmat kedua adalah menjadi umat Nabi Muhammad SAW. Rasulullah Muhammad SAW adalah satu-satunya manusia yang mengerti manusia, memikirkan manusia dan memanusiakan manusia. “Perlu disyukuri kita yang hidup di zaman sekarang masih bisa mengikuti beliau dan menjadi umatnya, karena belum tentu jika kita hidup di zaman Rasulullah dulu kita akan ikut beliau. Jangan-jangan malah bisa jadi kita mengikuti Abu Jahal,” ujarnya.

Sementara nikmat ketiga, lanjut Gus Mus adalah kita diciptakan menjadi orang Indonesia. Gus Mus bercerita ketika orang dari luar mengunjungi Indonesia, khususnya orang Arab. Mereka sangat mengagumi Indonesia bahkan mengatakan orang Indonesia tidak akan heran jika besok masuk surga, karena tanah airnya adalah sepotong surga.

Ia menceritakan ketika dirinya tinggal di Mesir. Di dalam ruangan gerah, keluar juga gerah pada musim panas. “Pada musim dingin, satu jari saja terbuka, rasanya langsung beku seluruh badan. Berbeda sekali dengan hidup di Indonesia,” kata Gus Mus.

Lalu bagaimanakah mensyukuri semua itu? Bagaimana bersyukur itu? Apakah cukup dengan kalimat Alhamdulillah telah memanjatkan puji syukur? “Bersyukur itu melaksanakan pemberian dengan semestinya dan tidak berlebih-lebihan,” tuturnya. (ar.NU Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*