Sumber: detik.com

Jombang, LiputanIslam.com– Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Mustofa Bisri mengatakan bahwa pemisahan ilmu agama dan ilmu umum di Indonesia merupakan warisan para penjajah yang sengaja melakukan itu. Sebab, menurutnya dalam Islam sendiri tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Hal itu disampaikan Gus Mus saat dirinya mengisi kajian agama di Pondok Pesantren Al-Aqobah Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Minggu (28/4).

“Di dalam Islam tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan umum. Silakan buka kitab-kitab kuning. Tapi di Indonesia ini terjadi, belajar matematika dianggap bagian ilmu umum dan belajar fikih dimasukkan kategori ilmu agama, ini warisan penjajah,” katanya.

Akibat pemisahan tersebut membuat masyarakat beranggapan kalau belajar ilmu agama itu di madrasah atau pesantren dan orang pesantren dianggap tidak paham ilmu umum. Bahkan pada tahap selanjutnya, ada istilah kitab untuk pesantren dan buku untuk sekolah formal negeri. Sehingga kitab karangan ulama dimasukkan kekategori ilmu agama dan tidak dijual di Gramedia.

“Kitab tersebut hanya bisa diterbitkan oleh Toha Putra atau khusus penerbitan kitab, padahal kitab dan buku merupakan hal yang sama,” ucapnya.

“Insinyur mengerjakan bagian bangunan, pesantren bagian doa saja. Kesalahan ini menjadi lumrah. Saya sudah sosialisasikan ini kemana-mana sejak lama tentang masalah intregasi. Semoga para santri nanti tidak hanya bisa bicara tentang agama saja tapi juga isu umum,” tambahnya.

Gus Mus mencontohkan negara Iran yang bisa mengintregrasikan ilmu umum dan ilmu agama. Para ulama di sana tidak hanya pakar tafsir Al-Qur’an dan hafal teksnya tapi lebih dari itu. Tidak ada pemisahan ilmu membuat negara Iran mandiri dan punya banyak ilmuwan yang juga hafal Al-Qur’an.

“Terlepas dari sistem imam, di Iran para ayatulallah atau kiai-kiai sana itu tidak hanya pintar agama tapi juga bisa diajak bicara militer, politik, kebudayaan. Karena sistem ilmu mereka tidak ada ini ilmu agama dan ini ilmu umum, tapi keduanya terintegrasi,” ungkapnya. (aw/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*