Sumber: nu.or.id

Tangsel, LiputanIslam.com– Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara, Zainul Milal Bizawie (Gus MIlal) menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam liberal sebagaimana yang dituduhkan para pengkritik. Menurutnya, Islam Nusantara merupakan khazanah peradaban yang ada dan berkembang di wilayah Nusantara.

“Tidak ada kaitannya dengan Islam liberal, tapi ini upaya kita menggali praktik keislaman kita di Nusantara,” ucapnya pada acara diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Tangerang Selatan, pada Sabtu (7/7).

Gus Milal menjelaskan bahwa Islam sudah masuk Nusantara sejak abad ketujuh Masehi atau pertama Hijriyah. Namun dakwah Islam kurang begitu berkembang hingga abad ke-14 hingga akhirnya datang lah era Wali Songo. Pada era ini, Islam berkembang sangat pesat dan diterima dengan baik oleh masyarakat lokal yang beragama Hindu-Budha.

Kesuksesan Wali Songo tersebut, lanjut dia, dikarenakan mereka mampu mendialektikan antara teks dan konteks, ajaran Islam dengan budaya setempat dan kearifan lokal. Bagi Gus Milal, apa yang dilakukan para Wali Songo itu merupakan cikal bakal dari Islam Nusantara.

Sementara perwujudan dan muara dari Islam Nusantara adalah pesantren. Di sana, praktik-praktik keislaman dari ulama-ulama Nusantara terdahulu terwariskan hingga saat ini. “Di pesantren, sanad keilmuan dan kebudayaan terwariskan sehingga terus terjaga hingga hari ini,” ungkapnya. (ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*