Anis Baswedan/kompas.com

Anis Baswedan/kompas.com

Jakarta, LiputanIslam.com – Diantara bertabur prestasi dari anak-anak bangsa baik di dalam maupun di luar negeri, namun nampaknya hal tersebut bukanlah potret pendidikan Indonesia yang sebenarnya secara keseluruhan. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan, Indonesia kini malah berada dalam kondisi gawat darurat mengacu pada hasil survei PISA yang menempatkan Indonesia pada posisi kedua dari bawah dari 65 negara.

Seperti dilansir dari antaranews.com, Anies mengatakan “Dalam satu dekade terakhir berdasarkan survei PISA (Programme for International Study Assessment) pendidikan Indonesia jalan di tempat, sementara negara lain sedang bersiap memenangkan pertarungan dunia, kita malah stagnan dan ini adalah tanggung jawab kita, bukan orang lain,” di Jakarta, Senin (1/12).

Anies menyampaikan hal tersebut dihadapan 650 peserta yang notebene adalah para kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten dan kota se-Indonesia di Aula Ki Hajar Dewantara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Anies menggambarkan jika dalam urusan investasi terdapat masalah, maka para pelaku dunia usaha bisa langsung protes karena terkena imbasnya. Berbeda dengan dunia pendidikan, jika terdapat masalah yang terkena imbas adalah anak cucu kita dikemudian hari. Anak-anak kita akan mempertanyakan apa yang telah kita lakukan bagi mereka untuk mempersiapkan masa depan, tambah Anies.

Anies mengatakan apa yang ada saat ini merupakan produk pendidikan Indonesia di masa lalu dan kita semua bisa melihat bagaimana hasilnya.

Ia kembali menegaskan bahwa hal tersebut merupakan tantangan yang sangat besar bagi seluruh jajaran pendidikan yang ada di Indoensia agar mampu mengubahnya menjadi lebih baik.

Berdasarkan hasil PISA tersebut, Anies mengajak semua pihak untuk merenungkan dan mengevaluasi agar bisa menentukan hal yang terbaik di masa depan.

“Fakta pahit tersebut harus diterima,” tutur Anies, agar kita tidak terus merasa berada dalam zona nyaman sementara didepan persoalan besar menghadang.

“Kita dalam kondisi yang gawat dan harus berubah, jangan saling menyalahkan antara pusat dan daerah, ini adalah tanggung jawab semua dan harus turun tangan menyelesaikannya,” kata dia.

Ia mengatakan untuk memperbaikinya harus mengubah banyak hal, minimal kerja serius karena negara lain juga pernah mengalami persoalan yang sama namun berkat kesungguhan bisa keluar dari persoalan. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL