Sumber: Suara Muhammadiyah

Yogyakarta, LiputanIslam.com– ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Prof Dr Muhammad Chirzin, M.Ag mengajak para mahasiswa untuk lebih mengedepankan format Islam rahmat lil ‘alamin. Hal itu ia sampaikan saat Acara Bedah Buku yang berjudul “Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia dan Keterkaitannya dengan Gerakan Radikalisme Transnasional”, karya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) periode 2011 – 2014 Ansyad Mbai, di Yogyakarta, pada Minggu (2/4).

Muhmmad Chirzin menyatakan, bahwa peran mahasiswa sangat dibutuhkan dalam upaya menebarkan Islam yang damai. “Peran mahasiswa, bergerak dari diri sendiri dengan mencari format Islam yang rahmatan lil ‘alamin”, tuturnya.

Ia juga memuji keberanian penulis buku tersebut mengungkap banyak hal tentang terorisme. Menurutnya, Fenomena terorisme di Indonesia sejalan dengan dinamika politik global dan akan terus berkembang. Setiap kali BNPT berusaha menguak kasus teroris, selalu muncul beragam opini di tengah masyarakat. Bahkan ada yang menyatakan bahwa teroris dipelihara negara dan program deradikalisasi sendiri merupakan proyek pemerintah.

Muhammad Chirzin, yang juga Guru Besar Tafsir al-Qur’an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut menjelaskan, bahwa pelaku teror bisa disebabkan oleh banyak faktor internal dan eksternal. Faktor internal artinya dari dalam diri sendiri yang salah memahami. Sementara faktor eksternal adalah lingkungan yang membentuknya. Ada juga yang disebabkan oleh ketidakpuasan atau kekecewaan. “Ada asap tentu ada api. Terorisme juga ada yang terpaksa bergerak, karena ada yang salah,” ujarnya.

Menurut Chirzin, di dalam diri setiap orang itu ada rasa keberagamaan. Hanya saja, ada yang beragama secara tekstual dan ada juga yang memperluas wawasannya. Keberagamaan yang tekstual cenderung mudah menjadikan seseorang menjadi ekstrim. “Menjadikan orang ekstrim itu mudah, tetapi menjadikan orang militan tidaklah mudah. Militan itu rasional, sementara ekstrim itu sudah tidak rasional”, ungkapnya.

Ia menambahkan, bahwa sikap radikal dan terorisme itu bertentangan dengan semangat yang diusung oleh para pejuang dan pendiri bangsa. Bertentangan juga dengan dasar Negara Pancasila dan UUD 1945. Chirzin juga menyatakan,  bahwa kehidupan beragama diibaratkan seperti sebuah rumah besar yang terdapat banyak kamar untuk setiap agama. Di dalam kamarnya, semua penganut agama berhak dan bebas berekspresi. Tetapi, dalam sebuah rumah juga terdapat ruang tengah atau ruang tamu tempat berkumpul masing-masing agama, itulah ruang publik. Dalam ruang publik, para penganut agama harus bertenggang rasa dan saling menghargai. (Ar/Suara Muhammadiyah).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL