Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyatakan bahwa dzikir kebangsaan yang digelar di Istana Negara Jakarta pada Selasa (1/8) malam bersama  para ulama dan ribuan umat Islam merupakan momentum untuk menjaga persatuan bangsa. menurutnya, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk meneguhkan komitmen antara ulama dan umara (pemerintah) secara bersama-sama membangun bangsa Indonesia ini.

“Inilah saat yang tepat bagi kita untuk meneguhkan komitmen dalam menjaga persatuan, kerukunan, toleransi, serta kerja bersama antara ulama dan umara untuk kemajuan Indonesia,” ujar Presiden, seperti dilansir nu.or.id, pada Rabu (2/8).

Dalam sambutannya, Presiden mengucapkan syukur dan memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk para pejuang, kiai, alim ulama, habaib, para tokoh agama dan tokoh daerah dari seluruh Indonesia yang telah berjuang dan berjasa besar bagi bangsa dan negara kita, Indonesia.  Ia juga mengajak masyarakat Indonesia untuk mensyukuri kemerdekan dengan bekerja keras dan berdoa untuk kemajuan bangsa.

Sementara, Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin mengharapkan agar Dzikir Kebangsaan rutin diselenggarakan oleh pemerintah di Istana Kepresidenan sebagai rasa syukur kemerdekaan RI. “Ini memang yang pertama kali dan mudah-mudahan akan terus dapat dilakukan setiap bulan Agustus mengawali peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945,” tuturnya.

Kiai Ma’ruf mengungkapkan, Dzikir Kebangsaan dilakukan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan RI serta nikmat memiliki dasar negara Pancasila yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. “Bangsa ini telah memperoleh berkat dan rahmat Allah Swt ketika kita berjuang di dalam upaya memerdekakan bangsa ini. Oleh karena itu para pendiri bangsa mengatakan dalam Pembukaan UUD 1945 bahwasanya kemerdekaan ini adalah berkat rahmat Allah Swt,” ucapnya.

Dalam acara tersebut, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir bersama sejumlah ulama pimpinan pondok pesantren, Menko Polhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Sementara di antara ulama yang hadir yakni KH Ma’ruf Amin (Rais Aam PBNU, Ketua Umum MUI Pusat), Abuya Muhtadi Dimyati (Ulama kharismatik asal Banten), KH Maimoen Zubair (Pengasuh Pesantren Sarang Rembang), dan sejumlah ulama sepuh dari beberapa daerah. Dzikir bersama ini dipimpin Kiai Miftakhul Akhyar, Wakil Rais Aam PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Jannah, Kedung Tarukan, Surabaya. (Ar/Republika/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL