anak-sekolahJakarta, LiputanIslam.com — Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengkritik program sekolah sehari penuh atau full day school (FDS) yang akan diterapkah oleh  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Pemerintah harus bisa menyesuaikan penerapan konsep FDS dengan kebutuhan dan akses pendidikan pada masing-masing daerah. “FDS sebetulnya menarik. Sebagai negara kepulauan dari Sabang sampai Merauke, itu punya kebutuhan yang berbeda,” ujar Emma dalam rapat dengar pendapat Kemdikbud dengan DPD RI, Senin (3/10).

Salah satu perbedaan kebutuhan itu terletak pada saran dan prasarana sekolah. Untuk itu, Emma meminta pemerintah terlebih dulu membangun sarana prasarana sekolah yang baik sebelum menerapkan FDS.

Sarana dan prasarana bukan hanya terfokus pada kebutuhan siswa, melainkan juga pada kebutuhan guru atau pengajar. Pemerintah juga harus mempertimbangkan kesiapan gedung sekolah di daerah-daerah.

Ema berkata, masih banyak gedung yang dipakai untuk dua waktu belajar pagi dan siang. “FDS memaksa sekolah untuk seharian melayani siswa. Tetapi masih banyak gedung sekolah yang menerapkan dua shift sekolah pagi dan siang,” kata Emma.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komite III dari Provinsi Sulawesi Barat Syibli Sahabbudin mengatakan, pemerintah harus bisa menjelaskan urgensi penerapan FDS. Sebab penguatan pendidikan karakter tidak harus dibentuk melalui suatu kebijakan dan konsep belajar baru.

Menurut Syibli, penguatan pendidikan karakter selama ini telah diterapkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, daripada menerapkan FDS, Syibli lebih mendorong pemerintah memperkuat implementasi dan penguatan pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan.

“Apa kurikulum tidak mencakup penguatan pendidikan karakter di dalamnya? Saya kira seluruh kurikulum pasti ada pendidikan karakter,” ujar Syibli.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, penerapan kebijakan FDS merupakan bentuk implementasi dari instruksi presiden dalam mewujudkan revolusi mental dunia pendidikan.

Muhadjir menjelaskan, kebijakan FDS bukan diartikan sebagai penambahan pelajaran, tapi justru penguatan pendidikan ko-kurikuler yang bertumpu pada penguatan karakter siswa. Kegiatan siswa di sekolah tidak hanya terbatas pada pendidikan formal, tapi juga pada penguatan keterampilan, estetika, dan karakter. (ra/cnn)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL