Aceh, LiputanIslam.com– Dokter Fauzi Yusuf SpPD, KGEH, FACG, FINASIM adalah dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sekaligus dokter pada Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Ia menemukan teori baru mengenai penyakit kanker kolorektal.  Berbeda dengan hasil penelitian di luar negeri, Fauzi justru mengungkapkan penyakit kanker usus besar ini disebabkan hilangnya bakteri bifidobacterium.

Temuan baru ini dirangkum Fauzi dalam disertasinya yang dipertahankan dalam ujian promosi doktor di bidang ilmu kedokteran di depan Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Runtung Sitepu dan promotor yang diketuai Prof Syafruddin Ilyas di Gedung Biro Pusat Administrasi USU, Medan, Kamis (5/1) pagi. Berdasarkan perbandingan penelitian terhadap dua kelompok orang, yakni 16 penderita kanker usus besar (kolorektal) dan 16 bukan penderita, ditemukan perbedaan pada kuman bifidobacterium.

“Ternyata pada penderita kanker kolorektal terjadi penurunan jumlah bakteri bifidobacteium. Ini merupakan ciri khas pasien kanker kolorektal di Indonesia. Sementara pada bukan penderita, bakteri atau kuman masih ditemukan,” kata Fauzi.

Fakta itu, menurutnya, mempetegas kalau kanker kolorektal muncul akibat menghilangnya kuman pada usus. Dijelaskannya, penyebab hilangnya kuman yang bisa menjadi imun pada saluran pencernaan itu karena faktor gaya konsumsi.

“Orang yang terlalu sering makan daging lebih rentan terserang kanker usus besar. Sebaliknya, kuman ini bisa dijaga dengan mengonsumsi makanan berserat, seperti brokoli, sereal atau gandum, yogurt, dan sebagainya,” beber Fauzi yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) Cabang Aceh.

Kanker kolorektal merupakan kanker dengan ancaman kematian terbesar keempat di dunia. Angka insidensi kanker kolorektal di negara berkembang mencapai lima hingga sepuluh kali lebih besar. Di Indonesia, kanker ini penyebab utama kematian yang setiap tahun meningkat.

Direktorat Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Patologi Anatomi Indonesia melaporkan bahwa pasien kanker kolorektal di bawah usia 45 tahun sebanyak 47,85 persen, sementara pasien berusia di bawah 40 tahun sekira 36,75 persen.

Hasil penelitiannya ini diakui Fauzi berbeda dengan temuan para dokter di luar negeri. Penelitian luar negeri lebih berpendapat bahwa kanker kolorektal ini disebabkan infeksi. Namun, seiring berkembangnya ilmu kedokteran, muncul temuan kalau penyakit ini akibat ketidakseimbangan mikrobiota.

Fauzi yang penasaran terhadap kasus ini kemudian mendalami penelitian itu hingga akhirnya menemukan faktor kuman sebagai biang keladinya.

Sebelum mempresentasikan penelitian ini dalam bentuk disertasi, Fauzi sudah lebih dulu menyampaikannya dalam beberapa seminar. Di antaranya pada The 33 World Congress of Internal Medicine di Bali 2016, sehinga menyabet penghargaan proposal penelitian terbaik Pekan Ilmiah Nasional (PIN) Award Perhimpunan Ahli Penyalit Dalam Indonesia (PAPDI) di Palembang tahun 2015 maupun di Jakarta International GI Endescopy Symposium & Live Demonstration di Jakarta tahun 2016.

Rektor USU Prof Rungtung Sitepu menilai penelitian ini merupakan langkah maju bagi ilmu kedokteran, khususnya Sumatera. Ia memuji kerja keras Fauzi yang bisa menghasilkan penelitian bermutu di tengah kesibukkannya sebagai dosen dan dokter di Banda Aceh. (ra/ aceh.tribunnews.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL