Sumber: duta.co

Korea Selatan, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa NU tidak akan memberikan celah sedikitpun bagi radikalisme. Menurutnya, seperti selama ini NU terus mengembangkan nilai-nilai Islam Nusantara yang menjadi pintu untuk inisiasi perdamaian. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pidatonya di Korea Selatan, Sabtu (2/12).

Kiai Said menyampaikan, bahwa nilai-nilai Islam yang dikembangkan NU adalah konsep perdamaian dan persaudaraan seperti yang dipraktikkan oleh para kiai, santri, dan komunitas pesantren NU di Indonesia. “NU mengembangkan konsep persaudaraan antarwarga bangsa, antarumat Islam, dan antarmanusia. Dengan itu, tidak sedikit pun NU menyediakan celah bagi ekstremisme dan radikalisme,” tegasnya.

Begitu juga antara agama dan nasionalisme, lanjut dia, harusnya terjembatani dalam sebuah konsep perdamaian, bukan dipertentangkan. “Dengan konsep persaudaraan itu, di Indonesia, agama dan nasionalisme tidak bertentangan, justru bergandengan tangan,” terangnya.

Menurutnya, para pendiri bangsa Indonesia telah merumuskan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara yang memungkinkan kebersamaan bagi 1.340 suku, 740 bahasa daerah, enam agama, dan banyak aliran kepercayaan. Kehidupan di Indonesia direfleksikan sebagai Bhinneka Tunggal Ika.

Dihadapan pimpinan politik, pejabat militer, pengamat pertahanan, pengusaha dan pemuka agama dari negara-negara Asia, Eropa, dan Amerika, Kiai Said menegaskan bahwa Prinsip Pancasila adalah berdasarkan kewarnegaraan, bukan pada suku dan agama “Ini selaras dengan prinsip Nabi Muhammad ketika membangun Madinah. Madinah dibangun dengan prinsip kewargaan, bukan atas sentimen agama dan etnis,” jelasnya. (Ar/Liputan6).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL