Jakarta, LiputanIslam.com — “Syeikh Ibrahim Zakzaky adalah orang paling kuat di Nigeria yang mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Itulah kenapa Syeikh Zakzaky harus dihabisin,” kata Mujtahid saat demo di depan Kedubes Nigeria di Jakarta (14/12/2015).

Demo itu dilakukan untuk mengutuk penyerangan yang dilakukan militer Nigeria terhadap kediaman Syeikh Zakzaky kemarin, serta mendesak pemerintah Nigeria agar segera mengakhiri penyerangan yang telah menelan korban ribuan nyawa pengikutnya termasuk keluarga Syekh Zakzaky sendiri.

Menurut Mujtahid bukan hanya sekali Syeikh Zakzaky berusaha dibunuh oleh rezim yang berkuasa, terutama tentara di sana yang di bawah kontrol Mossad dan CIA.

“Pernah rumah Syeikh Zakzaky dibuldozer, pernah juga beliau dipenjara. Tapi beliau tidak pernah melakukan perlawanan kekerasan walau pendukungnya jutaan,” ungkap aktivis yang telah beberapa kali ketemu Syeikh Zakzaky, termasuk saat beliau diundang dalam konferensi Palestina di Universitas Indonesia 2008 silam.

“Akhir Januari ini Syeikh Zakzaky berencana datang ke Indonesia untuk mempromosikan perdamaian, bertemu dengan pemerintah Indonesia juga Parlemen,” imbuh Mujtahid.

Syeikh Zakzaky adalah pemimpin The Islamic Movement of Nigeria. Organisasi ini dikenal sebagai kelompok anti-kekerasan yang banyak terlibat dalam aktivitas pendidikan dan sosial di Nigeria. Gerakan ini mendapat dukungan luas dari komunitas Muslim di Nigeria, utamanya di Zaria, kota terbesar di negara bagian Kaduna.

Syeikh Zakzaky sejak lama mengkritik keras praktik korupsi pemerintahan Nigeria, termasuk kerja sama Abuja dengan Israel dan dugaan hubungan gelap antara militer negara itu dengan kelompok teroris Boko Haram. Tak heran jika kemudian ulama karismatik pembangun peradaban di Afrika ini dianggap sangat berbahaya oleh rezim penguasa dan harus dihabisi.

“Mutiara emas Afrika ini kemungkinan sudah dihabisi tentara,” kata Mujtahid.

Ia melihat upaya serius militer telah ditunjukkan dengan menghabisi keluarga dan pendukungnya. Sementara saat ini hampir seluruh telekomunikasi diputus sehingga banyak wartawan tidak hanya di Indonesia tapi juga di Nigeria, susah mengakses informasi.

“Sampai sekarang Kedutaan Nigeria belum bisa memberikan statemennya, apa yang terjadi di sana. Telepon diputus. Internet diputus. Website yang ingin memberitakan apa yang terjadi di Nigeria shut down,” ungkap Mujtahid.

Demonstrasi yang juga menuntut pemerintah Indonesia, PBB, dan dunia internasional untuk melakukan “intervensi moral” terhadap pemerintah Nigeria untuk menghentikan segala persekusi terhadap warga Muslim ini dikoordinasi oleh Human Rights Alliance, Garda Suci Merah Putih dan Aliansi Anti Perang (A2P). (ABI PRESS)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL