Sumber: nu.or.id

Malang, Liputanislam.com– Deputi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Prof  Hariono mengatakan bahwa KH Masjkur sebagaimana kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang lain telah mengajarkan ajaran cinta tanah air, cinta akan bangsa, dan mengadopsi nilai-nilai budaya lokal. KH Masjkur juga terus berusaha melestarikan nilai-nilai kebhinekaan dan kebangsaan dibuktikan dengan membangun pesantren bernama Misbahul Wathan di Singosari Malang.

“Yakni santri yang mengembara dari satu guru kepada guru yang lain. Ajaran leluhur yang ada dalam Kitab Sutasoma telah dilakukan oleh KH Masjkur dan kebhinekaan ini harus terus dilestarikan oleh sistem pesantren,” ucapnya pada acara Forum Group Discussion (FGD) di Malang, Jawa Timur, seperti dilansir NU Online, pada Selasa (13/2).

Hariono menjelaskan bahwa KH Masjkur sejak kecil belajar di Pesantren KH Thahir Bungkuk Singasari Malang. Selepas itu, ia belajar khusus tentang gramatikal arab (nahwu shorof) di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Keingintahuannya yang mendalam akan fiqih memantapkan langkahnya untuk kembali nyantri di Pondok Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo. Selepas itu, melanjutkan memperdalam Ilmu Tafsir dan Hadits di Tebuireng Jombang kepada KH Hasyim Asy’ari.

Tak berhenti di situ, KH Masjkur belajar Qira’atul Qur’an di Pondok Pesantren KH Cholil Bangkalan Madura. Lepas itu, kiai yang menjadi pimpinan Laskar Sabilillah ini meneruskan pelajaran pesantrennya di Solo, di Pondok Jamsaren. Semua hasil belajarnya dari satu pesantren ke pesantren yang lain ia terapkan di Pondok Pesantren yang kemudian KH Masjkur dirikan yakni Misbahul Wathan atau Pelita Tanah Air.

Mula-mula Misbahul Wathan hanya menerima santri laki-laki, baru selang beberapa tahun menerima santri perempuan dengan memberi pembatan papan saat pelajaran berlangsung. Beberapa tahun berjalan, kendala demi kendala dihadapi KH Masjkur, tak banyak yang menerima nama Misbahul Wathan ini. Walhasil KH Masjkur mengubahnya menjadi Nahdlatul Wathan atas arahan KH Wahab Chasbullah dan menjadi cabang dari Nahdlatul Wathan di Surabaya.

Sementara pada kesempatan yang sama, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Abd A’la menambahkan bahwa uswah seperti ini harus dicontoh dari KH Masjkur untuk santri generasi milenial saat ini. Yakni tak pernah berhenti belajar dan dari guru manapun.

“Sejak dulu, Pesantren menjadi mercusuar lahirnya pemikir kritis dan Islam moderat, dan terbuka terhadap berbagai macam perbedaan, pesantren selalu menancapkan rasa cinta terhadap tanah air,” ungkapnya. (Ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*