densusMakassar, LiputanIslam.com — Detasemen Khusus (Densus) 88 dilaporkan menangkap Uztadz Muhammad Basri, MA, alias Basri (52), seorang ustadz yang diduga merupakan anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ia diringkus di Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan.

Basri dikenal sebagai ustaz pengelola pondok pesantren Tanfidzul Al Quran di RT 1 RW 9 Kelurahan Sudiang Raya. Ia sudah lama menjadi incaran petugas, yaitu sejak Juli 2014, karena ada informasi telah mempengaruhi santri dengan paham radikal, namun karena belum cukup bukti, polisi tak berani menahannya.

Warga di sekitar pondok pesantren mengatakan, Basri sering berceramah mengampanyekan pendirian negara Islam dan pendukung gerakan ISIS. Lalu pada Minggu, 20 April 2015, Basri dan pihak pesantren melakukan pertemuan yang dihadiri puluhan orang, wartawan diundang untuk meliput, namun beberapa diantaranya diperlakukan kasar oleh santri, diusir dan diteriaki dengan kata-kata “kafir”.

Dari laporan Okezone, 24 April 2015, Kepala Biro Penerangan Umum Humas Polri Brigjen Pol Agus Rianto mengatakan ada empat alasan mengapa pria ini ditangkap. Pertama, diduga terlibat kelompok militan ISIS. Kedua, ia diduga sebagai perencana pelemparan bom terhadap Gubernur Sulawesi Selatan pada 2012. Ketiga, ia memfasilitasi pemberangkatan WNI bergabung ISIS ke Suriah dan keempat menampung para teroris yang termasuk dalam daftar pencarian orang di Makassar.

Usai penangkapan, Basri diterbangkan ke Jakarta dan dibawa ke Mabes Polri untuk pengusutan berbagai kasus, baik terkait teroris maupun gerakan ISIS.

Usai pengangkapan Basri, terjadi ketegangan di pondok pesantren asuhanny a tersebut. Ketua RT 9 RW 9, Umar (45) yang dikonfirmasi, Jumat (24/4/2015) malam mengatakan, sejak pagi hingga pukul 19.00 Wita tadi, ratusan santri masih berkumpul di Ponpes. Mereka ada yang membawa parang, busur, papporo atau sejenis senjata rakitan lokal serta mengenakan cadar dan helm tertutup.

“Entah maksudnya apa bawa senjata tajam sejenis itu. Mungkin saja sekadar mengantisipasi kalau-kalau terjadi penangkapan susulan,” tutur Umar.

Ditanya apakah selaku ketua RT tidak mencoba dekati dan diskusi dengan para santri yang berjumlah 100-an orang itu, Umar berdalih bahwasanya kelompok tersebut tidak mengenal istilah diskusi atau ngobrol bersama.

“Mereka seperti berjaga-jaga atau meronda di sekitar pondok pesantren sehingga sampai di dekat kompleks kita. Bahkan sempat mendatangi pos ronda kompleks jadi saya hanya tegur, beri salam dan bertanya pura-pura tidak tahu apa yang tengah terjadi,” tutur Umar. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL