Achmad Nuril Mahyudin di workshopnya/jawapos

Achmad Nuril Mahyudin di workshopnya/jawapos

Tangerang Selatan, LiputanIslam.com – Jika orang kaya bersedekah mungkin sudah sewajarnya, namun jika seseorang yang hidup berkecukupan tapi rela hidup sederhana untuk kebahagiaan orang lain mungkin masih bisa dihitung jari. Dan salah salah satu nya yang selalu hidup sederhana demi membantu orang lain adalah sosok Achmad Nuril Mahyudin (47).

Nuril bukanlah orang kaya, namun ia memiliki bisnis konfeksi dan bakat seni yang bisa menghasilkan rupiah. Dari dua sumber itulah Nuril berbagai kepada orang lain yang membutuhkan. Sumber bisnisnya seolah sudah diwakafkan untuk sedekah.

Nuril memiliki bengkel konfeksi yang terletak di Pamulang Permai, Tangerang Selatan. Workshop tersebut memproduksi tas bermerek Amphibi dan Reptile. Pasarnya ternyata sudah bisa menembus pasar Internasional meskipun masih dalam skala home industry. Bahkan beberapa institusi dalam dan luar negeri banyak yang memesan tas pada Nuril seperti dikutip dari jawapos.com.

Hebatnya lagi, Nuril menjaring anak-anak kurang mampu untuk diberikan keterampilan dan bekerja di workshop Nuril. Nuril bertutur bahwa anak-anak tersebut ia dapatkan dari berbagai daerah. Ide pendirian usaha tersebut salah satunya memang diniatkan untuk membantu anak-anak dari keluara kurang mampu agar bisa berwirausaha pada nantinya.

Nuril mengaku bahwa workshopnya merupakan kerjasama dengan sahabatnya yang kini telah meninggal dunia, Zaki Zulkarnaen. Bersama sahabatnya itulah bermula Nuril dan Zaki merekrut anak muda disekitar kontrakannya untuk diberdayakan daripada menjadi pengangguran.

Setiap bulan Nuril bisa meraup omset antara Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Dari usaha konfeksi inilah Nuril menyiapkan dana keuntungannya untuk membangun sarana sosial di sejumlah daerah terpencil di Jawa.

Nuril sendiri yang blusukan dari desa ke desa selama hampir 25 tahun untuk mencari apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Salah satunya Nuril mempunyai andil besar dalam pembangunan sumur air bersih untuk warga Dusun Gede Pandean, Desa Kebon Waru, Ngawi.

Alumus Pesantren Gontor ini juga menekuni dunia kaligrafi dan seni lukis. Karyanya sempat dipajang di ruang peristirahatan presiden di Lemhanas Eksekutif. Lukisan tersebut dibanderol seharga USD 185 ribu. Dari lukisan-lukisan yang berhasil dijual Nuril dijadikan modal awal usaha konfeksi. Sampai kini Nuril pun terus melukis untuk menambah dana bantuan sosial.

Nuril menitikkan air mata ketika ditanya kepuasan yang didapatkan dari aktivitas sosialnya selama ini. ”Saya menemukan kebahagiaan yang tidak bisa saya ungkapkan dan tak bisa diganti dengan materi apa pun,” tuturnya.

Nuril bertekad untuk selalu memberikan contoh keteladanan kepada masyarakat dan hal itu telah dibuktikannya. Nuril tak memedulikan dirinya asalkan bisa membantu orang lain. Meskipun memiliki usaha konfeksi dan lukisan yang bernilai, namun hingga kini Nuril belum memiliki rumah. Sarana transportasi pun yang diandalkan oleh Nuril adalah motor bebek sederhana. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL