Daeng koroJakarta, LiputanIslam.com — Operasi militer yang dilakukan tim gabungan dari Densus 88, Brimob, dan Kepolisian Parigi Moutong di pegunungan Pangi, Sulawesi Tengah, pada Jumat sore, 3 April 2015, akhirnya membuahkan hasil. Salah satu gembong teroris yaitu Sabar Subagio alias Awuta Tatra alias Daeng Koro, dinyatakan tewas. Nurjannah, istri dari Daeng Koro, telah mengkonfirmasi bahwa tubuh yang ditemukan pasca operasi militer tersebut adalah suaminya.

“Setelah Nurjannah melihat jenazah, ia yakin bahwa sosok itu adalah suaminya dengan beberapa ciri fisik, seperti tanda injeksi di lengan, gigi, dan bekas luka di kakinya,” jelas Kepala Kepolisian Sulawesi Tengah Brigjen Idham Azis, Minggu, 5 April 2015 seperti dilansir The Jakarta Post.

Meski demikian, pihaknya tetap melakukan test DNA. Ia mengambil sampel air liur dan rambut dari Yausiah, anak ketiga Daeng Koro, untuk diindentifikasi. Menurut dia, hasilnya akan keluar dalam waktu 2-3 hari.

Selama operasi militer, sejumlah pengikut Daeng Koro berhasil melarikan diri. Polisi menyita tiga senjata, dua senapan M-16 dan satu senjata api, ratusan peluru, peta Sulawesi Tengah, bom, GPS, sel surya, ponsel dan beberapa senjata tajam.

Siapakah Sebenarnya Daeng Koro?

Daeng Koro merupakan salah satu pentolan kelompok teroris Santoso atau Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang banyak melakukan aksi teror di Poso. Menurut Wakapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti, Daeng Koro adalah pecatan TNI Angkatan Darat (AD). Hal ini dibenarkan oleh Kepala Pusat Penerangan TNI AD, Brigjen Wuryanto.

“Iya memang benar dia pecatan TNI AD. Dulu kalau tidak salah namanya Sabar Subagyo,” katanya, seperti dilansir CNN Indonesia.

Wuryanto lalu menjelaskan sebagian latar belakang Daeng Koro di TNI Angkatan Darat. Daeng Koro, pernah berdinas di Kopasandha (kini bernama Kopassus, pasukan elite Angkatan Darat) pada tahun 1982. Tetapi, ungkap Wuryanto, meski bergabung dengan Kopassus, Daeng Koro ini ternyata tidak memiliki klasifikasi komando, apalagi memiliki kemampuan-kemampuan khusus layaknya seorang prajurit Kopassus yang mumpuni.

“Yang  bersangkutan (Daeng Koro) saat mengikuti latihan komando, ternyata tidak lulus,” terangnya.

Karena tidak lulus latihan komando tersebut, lanjut wuryanto, Daeng Koro ditempatkan hanya sebagai prajurit di bagian pelayanan, bukan di bagian depan apalagi pertempuran. Satu-satunya latihan yang diikuti Daeng Koro dengan baik, tutur Wuryanto adalah training center (TC) bola voli.

“Kenapa, karena dia memang bisanya hanya main voli,” tegas Wuryanto.

Sepak Terjang dan Peran Daeng Koro

“Catatan pertama, Daeng Koro adalah pelatih dan ketua pelaksana beberapa kegiatan tadrib asyakari yang dilaksanakan di sejumlah wilayah di Sulawesi,” ujar Kepala Penerangan Divisi Humas Polri Kombes Rikwanto, Minggu, 5 April 2015 seperti dilansir Kompas.

Kedua, Daeng Koro diduga sebagai aktor intelektual dalam pembunuhan dua personel polisi, Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman di pegunungan Tamanjeka, Poso. Kedua Polisi itu menghilang pada 8 Oktober 2012 lalu. Keduanya akhirnya ditemukan aparat Kompi B Batalyon Infanteri 714 Sintuwu Maroso, Selasa 16 Oktober 2012 dalam keadaan tewas mengenaskan di antara Dusun Weralulu di Desa Tokorondo, dan Dusun Tamanjeka di Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir.

Dua mayat itu ditemukan terkubur dengan luka gorok pada leher, di lubang dengan kedalaman sekitar satu meter dan lebar seukuran badan. Polisi itu dikubur dengan posisi bertumpuk satu sama lain dengan posisi kepala satu orang berada di kaki yang lain, dan hanya menggunakan pakaian dalam. Kondisi mayat sudah bengkak dan seluruh tubuh tertutup lumpur.

Ketiga, Daeng Koro terlibat penghadangan dan penembakan yang mengakibatkan tewasnya tiga Brimob di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Kamis 20 Desember 2012. Anggota Brimob yang tewas itu adalah Briptu Ruslan, Briptu Winarto, dan Briptu Wayan Putu Aryawan.

Insiden terjadi ketika petugas gabungan dari Resimen Kelapa Dua Mabes Polri dan Polda Sulteng yang sedang melakukan patroli motor diberondong tembakan dari arah perbukitan. Personel kesulitan membalas lantaran arah tembakan berasal dari hutan.

Keempat, Daeng Koro dan rekan-rekannya juga sempat terlibat kontak senjata dengan personel Brimob di Gunung Gayatri, Desa Maranda, Poso pada pertengahan 2012 silam.

Kelima, Daeng Koro diduga terlibat dalam aksi penembakan kepada warga sipil di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir pada Juni 2014. Beruntung, tidak ada korban meninggal dunia.

Rikwanto melanjutkan, Daeng Koro adalah ahli strategi kelompok radikal MIT. Kelompok ini adalah saudara MIB (Mujahidin Indonesia Barat) yang diketuai Abubakar Ba’asyir.

“Daeng Koro mempertemukan MIT dengan kelompok Makassar, sehingga keduanya akhirnya terhubung,” ujar Rikwanto.

Daeng Koro disebut memiliki keahlian dalamDae pembuatan bahan peledak. Dia juga diketahui sebagai penyedia senjata api untuk kelompok radikal yang ingin melancarkan teror. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL