Mahasiswa di RotterdamJakarta, LiputanIslam.com — Suatu hari, di salah satu kelas di kampus X terlihat sedikit kegaduhan. Saat itu, dosen yang berhalangan hadir menitipkan pesan pada mahasiswa untuk segera mengumpulkan tugas. Tugas tersebut berupa makalah terkait perkembangan pasar di Indonesia. Ketika dikumpulkan, ternyata ada dua makalah yang isinya sama persis sampai ke titik koma. Sontak saja kedua mahasiswa itu saling berpandangan dengan tatapan menuduh.

Ya, benar. Keduanya meng-copy paste sebuah makalah yang telah dipublikasikan di internet. Sayangnya, copy paste tersebut tidak berjalan mulus, dan mau tak mau, mereka harus mengulang. Kejadian ini adalah kisah nyata yang cukup relevan untuk menggambarkan kondisi sebagian mahasiswa kita hari ini, yang cenderung menyukai hal-hal yang instan, malas berpikir dan berusaha.

Fenomena inilah yang disorot oleh Indy Hardono, Koordinator Beasiswa Nuffic Neso Indonesia. Ternyata, banyak pelamar beasiswa failed atau gagal meraih beasiswa dan bermimpi bisa studi ke luar negeri hanya lantaran tak bisa membuat jawaban baik atau pantas untuk pertanyaan tersebut pada lembar motivation letter (surat motivasi) yang dibuatnya. Indy mengatakan, banyak pelamar gagal karena tak bisa memberikan gambaran tentang relevansi antara program studi yang diambil dan yang ingin dilakukannya setelah lulus kuliah dengan beasiswa. Bahkan, yang melakukan tindakan plagiat atau istilah “copy paste” dari surat motivasi milik orang lain juga ada.

Ia menyatakan mengatakan rendahnya budaya menulis para pelajar Indonesia sebetulnya cukup mempengaruhi hal tersebut. Anak-anak Indonesia tidak terbiasa mengungkapkan pendapatnya dalam bentuk tulisan, termasuk untuk mengungkapkan motivasinya sendiri meraih beasiswa.

“Misalnya, si A ingin kuliah S-2 di Belanda agar karirnya menjadi lebih baik. Hanya itu yang ditulis di surat motivasinya. Lalu, kalau karirnya naik, memang urusan siapa. Egois sekali. Lain hal kalau dia ceritakan, misalnya, punya passion di bidang pendidikan dan ingin memajukan pendidikan di Indonesia secara spesifik,” ujar Indy usai bertemu para mahasiswa Indonesia di Erasmus University, Rotterdam.

“Saya pikir, untuk masa depan hidupnya saja sudah copy paste, bagaimana untuk keluarganya, untuk bangsanya. Miris sekali,” ujar Indy, seperti dilansir Kompas, 6 Maret 2015.

Tak heran, lanjut dia, banyak sarjana menjadi penganggur (educated unemployment) karena umumnya mereka tidak memahami untuk apa studinya kelak. Tidak ada motivasi apapun ketika si sarjana itu menjalani program studi pilihannya.

“Apakah mereka sudah berpikir sepuluh tahun kelak mau jadi apa, kan tidak. Mereka punya nilai sangat baik, sertifikat IELTS (International English Language Testing System) atau TOEFL-nya bagus, tapi tidak tahu mau jadi apa. Tak punya motivasi,” kata Indy.

Sebetulnya, pentingkah surat motivasi (Motivation Letter) itu? Apa sulitnya untuk membuat surat untuk mengungkapkan motivasi diri?

Marlindah J. S.A, alumnus Belanda dari Universitas Utrecht, dalam presentasinya ‘Bagaimana Menulis Surat Motivasi yang Baik’ di Holland Scholarship Day 2015 di Erasmus Huis Jakarta, mengatakan bahwa surat motivasi atau biasa disebut dengan Statement of Purpose merupakan surat pernyataan pribadi yang mengungkapkan mengenai diri kita sebenarnya.

“Di situ kita tuliskan apa saja yang telah mempengaruhi perjalanan karir kita, professional interest kita, apa rencana berikutnya baik pada saat menulis Statement of Purpose tersebut, dan setelah menyelesaikan studi kita di perguruan tinggi yang akan kita tuju,” ujar Marlindah.

Marlindah mengatakan, surat motivasi harus bisa memberikan gambaran mengenai latar belakang dan “goals” yang dapat memengaruhi lamaran agar dapat diterima di perguruan tinggi tujuan si pelamar.

Pertanyaannya, sedemikian pentingnya surat motivasi perlu diperhatikan calon pelamar beasiswa?

Tentu saja. Menurut Marlindah, sebuah surat motivasi yang baik akan meningkatkan kesempatan si pelamar untuk dapat diterima di perguruan tinggi atau universitas yang akan dia tuju. Surat ini juga akan membantu si pelamar meningkatkan “penampilan” keseluruhan dari aplikasinya ke perguruan tinggi tersebut.

“Yang pasti, sangat membantu kita sebagai si pelamar untuk membuat aplikasi kita menjadi strong application, sebagai kandidat kuat. Andalah yang pantas mendapatkan beasiswa itu, bukan orang lain,” ujarnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*