Sumber: nu.or.id

Gorontalo, LiputanIslam.com– Anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Willy Pramudya menyampaikan bahwa dalam upaya mencegah penyebarluasan paham radikal terorisme, maka media harus profesional. Menurutnya, persaingan yang mendewakan rating, menyebabkan profesionalisme jurnalis semakin menurun.

“Karena alasan persaingan media sekarang mendewakan klik, rating, dan oplah; yang ujungnya media menjadi tidak profesional,” ujarnya saat menjadi narasumber Visit Media Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Gorontalo, pada Rabu (8/11).

Menurut Willy, Ketidakprofesionalan media tampak dari terjadinya glorifikasi, fabrikasi, justifikasi. Dalam isu terorisme, tak jarang berbagai pelanggaran menjadikan berita yang disajikan media menjadi teror baru bagi masyarakat. “Contoh kasus bom di Jalan Thamrin, Jakarta. Kejadiannya tidak besar, tapi karena media mengejar rating dan membuatnya heboh, masyarakat yang di Gorontalo juga merasakan kengeriannya,” ucapnya.

Oleh karena itu, lanjut Willy, sudah menjadi tugas industri pers dan wartawan secara pribadi untuk meningkatkan independensi dan profesionalismenya. “Profesionalisme akan mencegah persaingan antarmedia,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo. Menurutnya, pencegahan terorisme bukan hanya menjadi tugas pemerintah. “Pers adalah bagian dari yang wajib ikut terlibat dalam pencegahan terorisme. Bagaimana keterlibatannya, salah satunya dengan menjaga profesionalisme,” kata Yosep. (Ar/NU Online).

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL