Roti yang diproduksi takfiri. Foto: facebook

Roti yang diproduksi takfiri. Foto: facebook

Jakarta, LiputanIslam.com — Warga dunia maya kembali menggalang petisi yang dipelopori oleh Agus Abubakar Arsal terkait semakin merebaknya hate speech (ujaran kebencian) dengan menggunakan isu SARA di Indonesia.

“Berkenaan dengan isu Syiah dan SARA lainnya, tokoh-tokoh yang berkeliling Indonesia untuk menyebar agenda SARA tersebut adalah orang yang sama, itu-itu juga. Padahal jika memang ada oknum yang dituduh Syiah yang ditengarai sebagai ancaman bagi NKRI seharusnya dilaporkan ke instansi yang berwenang untuk diproses lebih lanjut. Bukannya disebarluaskan di ceramah umum di hadapan khalayak rakyat awam sehingga potensial menimbulkan kerawanan sosial,” terangnya.

Menurut Agus, kesalahan berikutnya adalah melakukan generalisasi. Syiah adalah mazhab Islam dengan jumlah penganut sekita 200 juta orang di seluruh dunia.

“Generalisasi seperti ini sama salahnya dengan menyatakan Sunni berbahaya atau ancaman bagi NKRI karena ada kelompok ISIS yang mengaku Sunni melakukan teror dan ancaman,”tambahnya.

Lagipula, menurut Agus, Syiah di Indonesia hanya sekitar 1% dan seharusnya lembaga (negeri asing), yang merupakan sponsor kegiatan tersebut lebih mengkhawatirkan Saudi Arabia yang jumlah penganut Syiah sekitar 15%.

“Di negara-negara Arab secara keseluruhan disebutkan bahwa jumlah Syiah 50:50 dengan Sunni. Jumlah Sunni terbesar di dunia ada di Indonesia, Pakistan, dan negara-negara non-Arab lainnya,” jelasnya.

Bukankah agama dan hukum mengatur kita untuk saling menghormati masing-masing keyakinan?

“Setiap kejahatan individual hendaknya dilokalisir bukan digeneralisir. Agama dan hukum juga melarang kita menyebarkan info yang berpotensi menimbulkan kerawanan sosial berupa berita keamanan yang dapat menimbulkan ketakutan.”

Agus menenggarai saat ini ada upaya membenturkan antar kelompok masyarakat dari aspek agama mazhab dan suku bangsa.

“Pemerintah harus proaktif sebelum api kecil menjadi api besar. Kasus Tolikara, kasus Sampang, kasus Ahmadiyah, dari segi agama, begitu pula kasus-kasus lainnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut menjadi isu yang menggerogoti modal sosial perekat bangsa.”

Dalam petisi tersebut, Agus meminta kepada Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla segera menuntaskan segala problema yang berkaitan dengan isu SARA.

“Upaya damai bisa dilakukan dengan membentuk tim rekonsiliasi. Pihak-pihak terkait harus dipertemukan dan dimediasi,” pintanya.

Agus kembali mengingatkan, bahwa Surat Edaran Kapolri 6 Oktober 2015 sebenarnya normatif, dan seharusnya sudah diterapkan dari sejak dulu.

“Chaos dan anarkhi akibat SARA akan sangat mahal harganya. Semua pencapaian bangsa puluhan tahun akan sirna dlm waktu singkat.”

“Semua pihak yang punya kemampuan hendaknya turun tangan. Kita semua berada di atas kapal yang sama. Tidak tegak kebatilan dan kezaliman kecuali karena ketidakpedulian dan kelengahan orang-orang yang baik dan benar. Petisi ini lahir dari keprihatinan akan keutuhan NKRI dan Bhinneka Tungga Ika.”

“Semoga Tuhan Yang Kuasa memperbaiki urusan yang rusak di antara anak bangsa dan mewujudkan kedamaian sebagai syarat untuk membangun negeri,” tutupnya.

Anda cinta Indonesia? Yuk, tanda tangani petisi di Change.org. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL